Penelitian BRIN: Mikroplastik Telah Mencapai Kedalaman Laut Indonesia

  • 07 Mar 2026 08:17 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Partikel mikroplastik tidak hanya ditemukan di permukaan laut, tetapi juga telah mencapai kedalaman laut dalam. Penelitian terbaru menunjukkan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter ini ditemukan hingga kedalaman sekitar 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF) atau Arlindo. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Marine Pollution Bulletin melalui artikel berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways (2024). Penelitian ini dipimpin Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.

Arus Lintas Indonesia atau Arlindo merupakan sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui beberapa selat penting, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.

“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ujar Corry, melalui laman BRIN, Kamis 5 Maret 2026.

Selama ini, penelitian mengenai Arlindo lebih banyak berfokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Sementara itu, distribusi mikroplastik di kolom air, khususnya hingga ke laut dalam, masih jarang diteliti.

Penelitian ini dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.

Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air dari berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth). Sistem ini memungkinkan peneliti mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu.

Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.

Hasil analisis menunjukkan lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelas Corry.

Selain itu, analisis spektroskopi Raman juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri. Temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik. Kuatnya arus Arlindo memungkinkan partikel plastik terbawa hingga ke berbagai lapisan laut.

Penelitian lanjutan yang dipublikasikan dalam jurnal Sains Malaysiana juga menemukan bahwa mikroplastik telah masuk ke tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda yang hidup di jalur Arlindo. Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis dan ditemukan 133 partikel mikroplastik di dalam tubuh organisme tersebut, dimana rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.

“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry.

Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian serius karena organisme ini merupakan sumber makanan penting bagi berbagai jenis ikan. Proses tersebut berpotensi membawa mikroplastik berpindah sepanjang rantai makanan hingga akhirnya dikonsumsi manusia.

“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.

Corry menambahkan, penelitian tentang mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah laut dalam. Hal ini mengingat sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter.

“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir, tetapi sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” katanya. Ia berharap penelitian ini dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan, sekaligus mendukung upaya pengelolaan sampah plastik dan perlindungan ekosistem laut di Indonesia. (JR)

Rekomendasi Berita