Awal 2026, Kasus DBD di Wilayah Tarus Nihil

  • 09 Mar 2026 15:01 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Tarus, Kabupaten Kupang, pada periode Januari hingga Februari 2026 tercatat nihil atau tidak ditemukan kasus baru.

Kepala Puskesmas Tarus, dr. Novela Verona Tanuab, mengatakan sepanjang dua bulan pertama tahun ini belum ada laporan kasus DBD yang ditemukan di wilayah tersebut.

“Untuk tahun 2026 ini dari Januari sampai Februari belum ada kasus DBD yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Tarus,” ucap dr. Novela Verona Tanuab saat diwawancarai RRI.CO.ID, di ruang kerjanya, 9 Maret 2026.

Meski demikian, pada tahun 2025 lalu Puskesmas Tarus mencatat sebanyak enam kasus DBD yang telah terkonfirmasi. Sementara dua kasus lainnya sempat diduga demam berdarah, namun setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut dinyatakan negatif.

“Sepanjang tahun 2025 ada enam kasus yang sudah terkonfirmasi demam berdarah. Sementara dua kasus lainnya sempat diduga DBD, tetapi setelah proses konfirmasi ternyata bukan,” jelasnya.

Menurutnya, kasus yang terjadi pada tahun lalu dialami oleh pasien dengan rentang usia remaja hingga dewasa. Seluruh pasien dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis karena Puskesmas Tarus tidak memiliki fasilitas rawat inap.

Ia menambahkan, dalam penanganan kasus tersebut pihak puskesmas melakukan koordinasi lintas program serta bekerja sama dengan petugas Puskesmas Pembantu (Pustu) dan kader kesehatan di desa.

“Setelah kami mendapatkan informasi dari rumah sakit bahwa kasus tersebut positif, kami langsung menyampaikan informasi kepada petugas di desa untuk memantau kondisi pasien dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan penyelidikan epidemiologi dengan turun langsung ke lapangan untuk memeriksa keberadaan jentik nyamuk di lingkungan tempat tinggal pasien.

Sebagai langkah pencegahan, Puskesmas Tarus bekerja sama dengan pemerintah desa dan Dinas Kesehatan untuk melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta fogging di wilayah yang terindikasi.

Pihak puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk terus melakukan upaya pencegahan melalui gerakan 3M Plus.

“Masyarakat diharapkan rutin melakukan 3M Plus, yaitu menguras, menutup tempat penampungan air, serta membersihkan lingkungan agar tidak ada genangan air yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ucapnya.

Selain itu, masyarakat yang membutuhkan bubuk abate dapat menghubungi petugas puskesmas untuk ditaburkan pada tempat penampungan air guna mencegah berkembangnya jentik nyamuk. (Andry Iskandar)


Rekomendasi Berita