Dubai Chewy Cookie, Tren Dessert Kekinian

  • 02 Mar 2026 12:14 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dubai Chewy Cookie tengah menjadi tren dessert kekinian yang ramai diperbincangkan di media sosial. Kue bertekstur lembut di bagian dalam dan sedikit renyah di bagian luar ini dikenal dengan tampilan premium serta isian melimpah, mulai dari cokelat lumer hingga pistachio cream yang terinspirasi dari cita rasa khas Timur Tengah, khususnya Dubai.

Popularitas Dubai Chewy Cookie meningkat seiring maraknya konten ulasan makanan di platform digital seperti TikTok dan Instagram. Video potongan kue dengan lelehan isian di bagian tengah menjadi daya tarik utama yang memancing rasa penasaran warganet dan mendorong tren pembelian.

Berdasarkan pantauan tren digital sepanjang 2025–2026, Dubai Chewy Cookie masuk dalam kategori dessert viral yang mengalami peningkatan pencarian dan interaksi di media sosial. Sejumlah publikasi gaya hidup dan industri makanan internasional juga mencatat meningkatnya minat terhadap dessert premium dengan tampilan visual menarik dan cita rasa khas.

Berbeda dengan soft cookie pada umumnya, Dubai Chewy Cookie memiliki ciri khas pada ukuran yang lebih tebal, tekstur chewy yang dominan, serta penggunaan bahan premium seperti cokelat berkualitas tinggi dan pistachio. Beberapa varian bahkan dilengkapi topping tambahan untuk memperkuat kesan mewah.

Tren ini tidak hanya berkembang di kota-kota besar, tetapi juga mulai diadaptasi pelaku UMKM di berbagai daerah. Banyak usaha bakery dan rumahan memanfaatkan momentum viral tersebut untuk menghadirkan varian serupa dengan inovasi rasa lokal. Strategi pemasaran digital, sistem pre-order, serta produksi terbatas menjadi langkah yang banyak diterapkan untuk menjaga eksklusivitas produk.

Dari sisi harga, Dubai Chewy Cookie umumnya dipasarkan dengan banderol lebih tinggi dibandingkan cookies biasa. Namun, konsumen menilai harga tersebut sebanding dengan kualitas bahan, ukuran produk, serta pengalaman rasa yang ditawarkan.

Pengamat tren kuliner menilai fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen, terutama generasi muda, yang tidak hanya mempertimbangkan rasa tetapi juga tampilan visual dan nilai estetik produk. Media sosial dinilai menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Meski demikian, pelaku usaha diimbau untuk tetap menjaga kualitas dan konsistensi rasa agar tren tidak sekadar bersifat musiman. Inovasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar produk tetap diminati meskipun gelombang viral mulai mereda. (TT)

Rekomendasi Berita