Meugang Tetap Bermakna Bagi Generasi Muda Aceh
- 17 Feb 2026 11:36 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID Lhokseumawe – Tradisi meugang masih menjadi momen yang dinanti masyarakat Aceh, termasuk generasi muda di Kota Lhokseumawe. Tradisi yang identik dengan penyembelihan dan memasak daging sapi atau kerbau ini dilakukan menjelang bulan suci Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Meski zaman terus berubah dan gaya hidup anak muda semakin modern, nilai kebersamaan dan makna spiritual dalam meugang tetap terasa kuat di tengah masyarakat.
Di Lhokseumawe, suasana meugang selalu terasa berbeda. Sejak pagi, pasar-pasar tradisional dipadati warga yang berburu daging. Aroma masakan khas seperti kuah beulangong, rendang, dan masak merah tercium dari dapur rumah-rumah warga. Bagi masyarakat, meugang bukan sekadar tradisi makan daging, tetapi simbol rasa syukur dan kebersamaan sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Anak-anak muda pun ikut terlibat, mulai dari membantu orang tua berbelanja hingga memasak bersama keluarga.
Salah seorang warga Lhokseumawe, Nurhayati (45), mengenang suasana meugang sebelum Ramadan yang selalu menghadirkan rasa haru. “Sejak kecil, kami sudah diajarkan bahwa meugang itu bukan soal mewahnya makanan, tapi tentang berkumpul. Biasanya kami masak ramai-ramai, lalu kirim sebagian ke tetangga,” ujarnya. Ia menambahkan, tradisi berbagi daging kepada keluarga kurang mampu menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari hari meugang.
Menurut Jihan Fanyra, Duta Santri Nasional perwakilan Aceh, meugang memiliki nilai pendidikan karakter bagi anak muda. Ia menilai tradisi ini mengajarkan empati, gotong royong, serta memperkuat identitas budaya Aceh di tengah arus globalisasi. “Anak muda jangan sampai melupakan akar budayanya. Meugang adalah momentum untuk belajar berbagi, menghargai keluarga, dan mempererat silaturahmi. Ini bukan sekadar tradisi tahunan, tapi warisan nilai,” ungkap Jihan.
Ia juga menambahkan bahwa di era digital saat ini, anak muda bisa ikut melestarikan meugang dengan cara kreatif, seperti membagikan cerita atau konten edukatif tentang makna tradisi tersebut di media sosial. Dengan begitu, meugang tidak hanya hidup dalam praktik, tetapi juga dalam narasi positif yang menguatkan identitas generasi muda Aceh. “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” katanya.
Di tengah perubahan zaman, meugang tetap menjadi penanda bahwa nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur masih mengakar kuat di Lhokseumawe. Tradisi ini tidak lekang oleh waktu karena ia hidup dalam hati masyarakat, termasuk anak muda. Menjelang Ramadan, meugang bukan hanya tentang daging di meja makan, melainkan tentang hangatnya kebersamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.