Kemenkes Minta Warga Waspadai Penularan Campak jelang Mudik dan Lebaran
- 12 Mar 2026 21:22 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Jakarta - Hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan tren kasus campak sempat meningkat pada Januari 2026, namun mulai menunjukkan penurunan pada Februari.
“Tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun ini tercatat lebih dari sepuluh ribu suspek campak. Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujar Andi Saguni Kamis 12 Maret 2026.
Meski tren mulai menurun, masyarakat diminta tetap waspada menjelang libur Lebaran karena meningkatnya mobilitas dan aktivitas berkumpul dapat memicu penularan.
Sebagai langkah pengendalian, Kemenkes mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign imunisasi campak-rubella (MR) di wilayah terdampak maupun berisiko. Program ini dilaksanakan di 102 kabupaten/kota dengan sasaran utama anak usia 9–59 bulan sepanjang Maret 2026.
Pelayanan imunisasi dilakukan melalui berbagai titik layanan, seperti puskesmas, posyandu, satuan pendidikan (PAUD dan TK), tempat ibadah, hingga pos pelayanan mudik.
“Kami mengajak para orang tua untuk segera memeriksa status imunisasi anak dan melengkapinya jika belum lengkap. Imunisasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah anak tertular campak,” kata Andi.
Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan.
Kemenkes menegaskan keberhasilan pengendalian campak sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah, dukungan lintas sektor, serta partisipasi masyarakat dalam memastikan cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok dan mencegah penyebaran penyakit.
Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan vaksin campak-rubella (MR) di Indonesia dalam kondisi aman untuk mendukung percepatan pelaksanaan imunisasi dalam merespons peningkatan kasus campak di sejumlah daerah.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalusia, menyampaikan bahwa penyediaan vaksin menjadi salah satu faktor kunci dalam pengendalian wabah campak selain kegiatan surveilans dan deteksi dini kasus.
“Dalam merespons kejadian luar biasa campak, salah satu faktor penting selain surveilans adalah penyediaan vaksin untuk pelaksanaan imunisasi. Pemerintah telah merencanakan percepatan pelaksanaan Outbreak Response Immunization di daerah-daerah dengan kasus tinggi,” ujar Rizka Andalusia dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring, pada Jumat (6/3).
Rizka juga memastikan stok vaksin tersedia dan terus melakukan distribusi dari pusat ke daerah, terutama pada wilayah yang stoknya mulai menurun.
"Seluruh provinsi saat ini memiliki ketersediaan vaksin dengan tingkat stok di atas dua bulan,” jelasnya.
Stok vaksin tersebut diprioritaskan untuk mendukung pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi kejar) di 102 kabupaten/kota pada 11 provinsi yang menjadi prioritas pengendalian campak. Rizka juga menegaskan bahwa vaksin MR yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah melalui proses evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiatnya.
Berdasarkan hasil studi dan uji klinis, vaksin MR terbukti efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh terhadap campak dan rubella. Penelitian menunjukkan peningkatan antibodi yang signifikan setelah pemberian vaksin, dengan tingkat seropositif mencapai lebih dari 90 persen pada anak yang telah divaksinasi.