Mengecas Mobil Listrik di Rumah Lebih Baik
- 23 Jan 2026 09:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Pengisian daya mobil listrik menggunakan listrik rumah dinilai lebih baik dibandingkan terlalu sering menggunakan terminal fast charging di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Selain lebih fleksibel, metode pengisian di rumah juga dinilai lebih awet untuk menjaga kesehatan baterai mobil listrik dalam jangka panjang.
Sales Consultant BYD Haka Auto Madiun, Khafid Nur Rois, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara pengisian daya di rumah dan di SPKLU, yaitu pada jenis arus listrik yang digunakan.
“Nah, gini pertimbangannya. Kalau di rumah itu pakainya AC, Mbak. Ada dua metode, AC dan DC. Kalau DC itu fast charging. Nah, itu yang tersedia di SPKLU PLN atau di rest area, semuanya fast charging. Kalau di rumah pakainya AC, makanya untuk pasang di rumah tetap pakai AC,” jelas Khafid.
Menurutnya, pengisian daya menggunakan arus AC di rumah lebih ramah terhadap baterai meskipun membutuhkan waktu lebih lama, yakni sekitar 8 jam. Namun, waktu tersebut dinilai lebih fleksibel karena bisa dilakukan saat malam hari atau saat kendaraan tidak digunakan.
“Delapan jam itu sebenarnya lebih fleksibel. Kalau kita buru-buru, barulah ke SPKLU,” tambahnya.
Khafid menegaskan bahwa penggunaan fast charging tetap diperbolehkan, terutama dalam kondisi darurat atau saat membutuhkan pengisian cepat di perjalanan. Namun, pengisiannya disarankan tidak dilakukan hingga penuh.
“Enggak apa-apa kalau kita buru-buru ke fast charging, tapi pengisiannya hanya 80 persen saja kalau bisa. Sisanya nanti kita cas di rumah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, fast charging memang memiliki keunggulan dari sisi waktu. Dalam kondisi tertentu, pengisian daya bisa dilakukan hanya dalam waktu sekitar 20 menit dan baterai dapat terisi hingga 90 persen. Meski begitu, penggunaan berulang dinilai kurang baik untuk kesehatan baterai.
Selain metode pengisian daya, Khafid juga mengingatkan pentingnya kebiasaan penggunaan mobil listrik sehari-hari. Pengguna disarankan untuk mulai mengisi daya saat kapasitas baterai berada di kisaran 20 persen agar tidak kehabisan daya di jalan.
Pengoperasian kendaraan juga berpengaruh terhadap konsumsi baterai. Mobil listrik umumnya memiliki beberapa mode berkendara, seperti eco, normal, dan sport. Mode eco dikenal paling hemat daya, sementara mode sport menawarkan akselerasi lebih responsif namun menguras baterai lebih cepat.
“Semua itu tergantung cara kita pakainya. Kalau dipaksa tenaga terus ya cepat habis. Tapi kalau dipakai santai, apalagi untuk kota seperti Madiun, atau perjalanan ke Solo dan Jogja, pakai mode yang hemat itu sudah cukup,” jelasnya.
Dengan memahami cara pengisian dan penggunaan yang tepat, mobil listrik dinilai tidak hanya efisien, tetapi juga lebih awet dan nyaman digunakan sebagai kendaraan harian.