Begini Aturan Minum Antibiotik saat Berpuasa

  • 01 Mar 2026 22:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dalam sejumlah kondisi kesehatan tertentu, seseorang memerlukan konsumsi antibiotik. Ketua Tim Kerja Farmasi dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun, Suparida menyebutkan, dalam kondisi tersebut maka puasa dapat ditunda terlebih dahulu.

Hal ini karena antibiotik membutuhkan jarak waktu yang sama agar dapat bekerja secara efektif di dalam tubuh.

“Antibiotik memang tidak direkomendasikan diminum tiga kali sehari ataupun empat kali sehari saat berpuasa. Idealnya, minum obat dilakukan dengan rentang waktu yang sama. Misalnya, jika pada hari biasa diminum tiga kali sehari, maka dalam 24 jam dibagi tiga, sehingga setiap delapan jam sekali," jelas Suparida, Minggu 1 Maret 2026.

"Kalau memang terpaksa harus mengonsumsi obat tersebut, mungkin puasanya bisa ditunda. Namun jika masih ada kemungkinan diganti dengan obat lain, maka diupayakan menggunakan obat alternatif terlebih dahulu,”lanjutnya.

Suparida menambahkan, saat berpuasa waktu minum obat terbatas dari berbuka hingga sahur. Pada siang hari, perut berada dalam kondisi kosong dan tidak ada konsumsi obat dalam rentang waktu yang cukup lama. Kondisi ini menyebabkan jarak minum antibiotik menjadi tidak sesuai dengan aturan idealnya.

Akibatnya, kadar antibiotik di dalam darah atau tubuh dapat menjadi terlalu rendah. Kadar obat yang rendah ini tidak efektif untuk membunuh kuman atau bakteri penyebab penyakit.

"Dan untuk antibiotik ini memang lebih diutamakan dengan rentang waktu yang sama. Jadi kalau di bulan puasa tidak dianjurkan untuk minum antibiotik yang pemakaiannya tiga kali sehari ataupun empat kali sehari itu tidak dianjurkan," lanjutnya.

Jika bakteri atau kuman tidak mati secara optimal, dikhawatirkan akan muncul resistensi. Dalam kondisi ini, bakteri atau kuman menjadi kebal terhadap antibiotik yang digunakan.

“Ketika seseorang kembali terkena kuman atau bakteri yang sama, antibiotik yang digunakan sebelumnya bisa menjadi tidak efektif sehingga memerlukan antibiotik dengan dosis lebih tinggi atau jenis lain,” tambahnya.

Suparida mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan obat dan tidak menggampangkan minum obat. Ia menegaskan penggunaan obat harus sesuai indikasi dan aturan pakai.

Rekomendasi Berita