Toxic Positivity Berbeda dengan Dukungan Positif, Ini Kata Psikolog.
- 05 Mar 2026 14:12 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Dalam kehidupan sehari-hari sudah pasti menjadi orang yang berpikir positif, terus berprasangka baik, bahkan menjadi pribadi yang positif ada keinginan setiap orang. Namun, bagaimana jika kondisinya membuat kita mengalami emosi- emosi negatif, dan dalam budaya masyarakat kita, sering kali kita dituntut untuk tetap baik- baik saja, atau tetap berpikir positif pada kondisi yang padahal membuat kita sedih, kecewa atau bahkan hancur, hal inilah memicu yang namanya toxic positivity.
Psikolog Robik Anwar Dhani, M.Psi, Psikolog, menerangkan kepada RRI Madiun, dalam program Teman Cerita, bahwa toxic positivity itu muncul ketika kita berada dalam situasi dengan emosi negatif atau ketika kita sedang tidak baik-baik saja.” Jadi toxic positivity itu kita sok memaksakan diri untuk berpikir positif, padahal dalam hati sedang hancur-hancurnya,” jelas Robik.
Hidup tidak selalu menempatkan diri kita pada kondisi yang positif, melainkan ada waktunya kita berada pada situasi yang membuat kita sedih, kecewa, marah dan lain sebagainya. Ketika emosi negatif muncul dan terus diabaikan maka inilah yang menjadi faktor utama toxic positivity itu terjadi.
Tentu kalimat- kalimat yang sering kali kita ucapkan terdengar positif dan mungkin niatnya juga untuk memberikan dukungan sepenuhnya saat menghadapi orang- orang terdekat melewati kondisi yang tidak baik, tapi justru bisa semakin melukai dan atau parahnya merusak mental mereka. Lebih lanjut, Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun itu juga menegaskan seperti apa perbedaan dukungan positif dengan toxic positivity sendiri.
“Dukungan positif itu adalah ketika kita mengakui perasaan negatif orang lain selain juga memahami perasaan negatif tersebut. Kemudian step berikutnya adalah menawarkan bantuan yang nyata serta tidak memaksakan pandangan kita terhadap apa yang sedang dialami orang lain tersebut,” jelas Robik.
Dukungan yang baik dan positif tentu tidak akan pernah mengabaikan emosi negatif yang ada, dan bahkan memvalidasinya sebelum kita menentukan bantuan yang nyata dan hadir sepenuhnya. Sedangkan toxic positivity adalah sebaliknya, yakni mengabaikan emosi negatif, memaksa untuk tetap baik- baik saja maupun pikiran yang positif seperti untuk segera ikhlas ketika kehilangan, semua akan segera baik- baik saja, dan sebagainya.
Namun kalimat- kalimat tersebut justru sangat tidak realistis dengan kondisi yang ada, bahkan semakin menekan emosi negatif yang ada. Jika hal tersebut berulang terjadi, maka akan berdampak buruk bagi orang yang sedang mengalami emosi negatif tadi, seperti akan semakin mengisolasi diri, bahkan merasa tidak ada lagi yang bisa memahaminya.
Lebih lanjut, Robik menjelaskan dampaknya bagi korban toxic positivity juga ketika mereka sudah merasa hanya ada dirinya sendiri yang bisa memahami, maka meningkatkan kondisi stres. Lalu, ketika seseorang mengalami stres, kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah juga semakin minim, sehingga permasalahan tidak dapat tuntas alias menggantung.