Labuhan Sarangan, Simbol Gotong Royong dan Kearifan Lokal Lereng Gunung Lawu

  • 31 Jan 2026 22:35 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan – Labuhan Sarangan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga simbol kearifan lokal masyarakat lereng Gunung Lawu. Tradisi ini digelar setiap Jumat Pon bulan Ruwah atau Syaban, menampilkan pelarungan tumpeng besar dari hasil pertanian dan peternakan sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan doa keselamatan warga.

Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan, “Labuhan Sarangan mengajarkan nilai gotong royong dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Tradisi ini harus dijaga kesakralannya meski dikunjungi wisatawan.”

Pada Jumat (16/1/2026), kirab sesaji dilepas dari Pasar Sarangan menuju Telaga Sarangan, diikuti ratusan peserta berpakaian adat yang mengiringi tumpeng dan perlengkapan ritual.

Kepala Lembaga Adat Magetan, Suryadi, menambahkan, “Prosesi Labuhan mempererat solidaritas warga dan menjaga keseimbangan alam, sekaligus menjadi identitas budaya yang harus diwariskan.”

Status Labuhan Sarangan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) membuka peluang promosi tradisi ini ke tingkat nasional, namun tetap menekankan perlunya menjaga nilai spiritual.

Dinas Pariwisata Magetan menilai kehadiran wisatawan dalam tradisi ini memberi dampak positif terhadap ekonomi lokal, khususnya pedagang dan pelaku usaha di sekitar Telaga Sarangan.

Labuhan Sarangan menegaskan bagaimana tradisi adat yang sarat makna dapat menjadi pengikat sosial, menjaga kelestarian alam, serta memperkuat identitas budaya masyarakat Magetan.


Rekomendasi Berita