Papaseng Toriolo Pondasi Kokoh Pembentukan Karakte

  • 28 Feb 2026 20:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Guru Besar Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahman Matammeng, M.Hum., menekankan pentingnya menghidupkan kembali Papaseng Toriolo (pesan leluhur). Pasalnya, hal tersebut sebagai perisai karakter generasi muda di tengah gempuran budaya global.

Dalam dialog "Apresiasi Budaya Lokal" di RRI Pro 4 Makassar, Jumat, 27 Februari 2026, Prof Nurhayati menjelaskan bahwa kearifan masa lampau masyarakat Bugis-Makassar diabadikan dalam dua wadah utama, yakni lisan dan tulisan melalui naskah Lontara. Pesan-pesan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan memori kolektif yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial.

"Papaseng itu adalah alat pengontrol perilaku. Leluhur kita menciptakan dasar yang kuat agar masyarakat hidup teratur dan memiliki integritas, bahkan sebelum adanya sistem pendidikan formal," ujar Prof Nurhayati.

Ia mencontohkan bagaimana pesan leluhur melarang tindakan korupsi melalui perumpamaan halus namun tegas. Larangan "menaikkan harta ke rumah di tengah malam" secara esensial adalah peringatan keras terhadap perilaku mengambil hak orang lain secara sembunyi-sembunyi yang diiringi dengan sanksi alamiah.

“Kalau secara logika, itu kan prilaku mencuri, karena dia bawa hasil curian ke rumahnya,” terang dia.

Menutup pembicaraan, Prof Nurhayati mengajak para ibu dan pendidik untuk tidak berhenti mentransmisikan nilai-nilai ini. Menurutnya, identitas sebagai orang Bugis-Makassar harus dijaga agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri di tengah arus informasi yang tak terbendung.

“Pesan-pesan orang tua dulu tetap harus jaga dan diterapkan di kehidupan era sekarang, karena hal ini yang dapat menjaga identitas kita,” tutupnya. (RRI/Febri).

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita