Fenomena Senjata Mainan di Makassar Picu Kekhawatiran
- 06 Mar 2026 10:49 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar: Fenomena permainan senjata mainan atau tembak-tembakan di kalangan anak-anak hingga orang dewasa kini tengah menjadi sorotan publik di Kota Makassar selama bulan suci Ramadan. Meskipun kegiatan ini bermula dari tren musiman untuk mengisi waktu luang, intensitas dan cara bermainnya kini mulai mengarah pada tindakan yang berisiko. Demikian disampaikan Sosiolog dari Unismuh Makassar, Yahya Mustafa dalam dialog Makassar Menyapa pagi, Kamis, 5 Maret 2026.
“Jadi memasuki bulan Ramadan ini ya, kita melihat ada beberapa fenomena sosial menarik di kota metropolitan ini Termasuk di kalangan anak-anak kita ya yang banyak menggunakan pistol atau senjata mainan yang digunakan di tengah-tengah masyarakat ya Dan dalam menggunakan itu ya sepertinya mereka saling terang-menyerang ya secara nyata dengan menggunakan pistolan tersebut, tapi dalam praktik dan kegiatan mainan tersebut itu kemudian membawa risiko juga ya,” katanya dalam perbincangan ini.
Dikatakan, potensi konflik muncul ketika permainan tersebut menyebabkan cedera fisik akibat peluru mainan yang mengenai bagian tubuh vital. Rasa sakit atau cedera yang dialami salah satu pihak sering kali memicu emosi yang berujung pada pertikaian nyata antar kelompok. Jika tidak segera diantisipasi, aktivitas yang awalnya dianggap sebagai hiburan ini dikhawatirkan dapat bergeser menjadi tindakan kriminal yang merusak ketenangan warga di momen Ramadan.
Selain risiko cedera fisik, gangguan terhadap ketertiban umum juga menjadi perhatian utama bagi masyarakat Makassar. Banyak anak-anak yang memainkan senjata mainan ini di jalan raya atau area pemukiman padat penduduk, sehingga mengganggu para pengguna jalan yang dapat menyebabkan kecelakaan sehingga permainan tembak-tembakan ini sebaiknya dilakukan di tanah lapang.
“Misal dilakukan di lapangan sepak bola atau dan sebagainya itu yang kalau memungkinkan seperti ituKarena kalau di pemukiman dan di jalan itu pasti mengganggu banyak orang ya dan itu jug mengganggu sang anak yang bermain bisa saja diTabraklah dan sebagainya, ini yang perlu memang diperhatikan ya dalam permainan seperti ini,”ungkapnya
Langkah antisipasi lainnya yakni perlunya pengawasan terhadap produsen senjata mainan guna memastikan peluru yang digunakan tidak membahayakan keselamatan. Jika dampak negatifnya terus meluas, pembatasan peredaran senjata mainan yang memiliki daya rusak tinggi bisa menjadi langkah darurat yang harus diambil oleh pemerintah guna melindungi warga.
“kemudian bisa diantisipasi sebenarnya ya karena ini kan barang mainan ada yang memproduksi misalnya yang perlu diantisipasi dari produsennya itu bahwa ketika misalnya mainannya tersebut itu bisa membawa cedera bagi para anak-anak yang bermain, itu yang perlu diantisipasi dalam mempersiapkan alat dan peralatan yang dipakai,” katanya kepada RRI.
Menurutnya, Peran lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah, juga sangat krusial dalam meredam potensi konflik ini. Orang tua diharapkan dapat memberikan pemahaman dan penyadaran kepada anak-anak mereka bahwa bermain memiliki batasan etika dan keselamatan. Koordinasi antara orang tua dan pendidik diperlukan untuk memastikan anak-anak memahami risiko yang mereka timbulkan bagi diri sendiri maupun orang lain saat membawa senjata mainan ke ruang publik.