Perbedaan Klepon dan Onde-Onde, Jajanan Pasar yang Selalu Dicari
- 18 Feb 2026 18:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Perbedaan nama kue bulat kenyal berisi gula merah di nusantara. Kue bulat kenyal berisi gula merah ini merupakan salah satu kudapan ikonik yang banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Meski memiliki bentuk yang serupa, kue ini memiliki beragam nama yang sering memicu perdebatan seru di kalangan masyarakat, tergantung dari wilayahnya. Berikut adalah panduan mengenai perbedaan nama kue tersebut berdasarkan lokasi geografis dan budaya lokal.
Berdasarkan buku "Kuliner Jajanan Pasar di Jalur Sutra" karya Bondan Winarno, di Jawa (Tengah, Timur, DIY), kue ini dikenal dengan nama Klepon. Klepon terbuat dari bola tepung ketan hijau yang diisi gula merah cair, kemudian dibalut dengan kelapa parut. Perpaduan rasa manis dari gula merah dan gurihnya kelapa menjadikan Klepon sebagai kudapan yang digemari. Kue ini biasanya ditemukan di pasar tradisional atau sebagai camilan sehari-hari, dan bukan hanya saat Ramadan, menjadikannya salah satu favorit sepanjang tahun.
Sementara itu, di Sumatra dan Malaysia, kue serupa dikenal dengan nama Onde-Onde. Namun, sebutan "Onde-Onde" di wilayah ini merujuk pada kue ketan yang berisi gula merah, berbeda dengan yang dilapisi wijen seperti yang sering ditemukan di Jawa. Perbedaan penyebutan ini sering menimbulkan kebingunguan, tetapi pada dasarnya, kedua nama tersebut merujuk pada kue ketan berisi gula merah.
Di Sulawesi, khususnya di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar, kue ini juga disebut Onde-Onde. Namun, di wilayah ini, Onde-onde tidak hanya dianggap sebagai camilan, tetapi juga memiliki makna filosofis dalam acara adat. Dalam ritual adat seperti "Barzanji" atau syukuran rumah baru, kue ini dihidangkan sebagai simbol harapan agar rezeki dan kebahagiaan selalu melekat pada pemilik rumah.
Berbeda dengan penyebutan di daerah lainnya, di Jawa dan Jakarta, Onde-Onde merujuk pada kue goreng yang dilapisi biji wijen dan berisi kacang hijau. Kue ini sering dijumpai di pasar-pasar tradisional di Jawa dan memiliki tekstur yang lebih renyah dibandingkan dengan Klepon yang kenyal. Oleh karena itu, meskipun menggunakan nama yang sama, kedua jenis kue ini sebenarnya berbeda dalam hal bahan dan cara pengolahannya.
Perbedaan penyebutan kue ini di berbagai daerah dapat dipahami melalui faktor budaya dan sejarah yang melingkupi masyarakat setempat. Di Sulawesi Selatan, misalnya, Onde-onde lebih dari sekadar camilan. Kue ini sering hadir dalam berbagai ritual adat sebagai simbol keberuntungan dan harapan. Teksturnya yang lengket dan manis diyakini melambangkan bahwa rezeki dan kebahagiaan akan terus melekat pada rumah dan keluarga.
Di Jawa, perbedaan nama terjadi karena pengaruh kuliner Tionghoa. Nama Onde-Onde diambil dari kue Tionghoa Jian Dui, yaitu bola ketan goreng dengan lapisan wijen. Agar tidak terjadi kebingunguan antara kue-kue tersebut, masyarakat Jawa memilih menyebut bola ketan berisi gula merah dengan nama Klepon. Hal ini menunjukkan bagaimana kuliner Indonesia dipengaruhi oleh berbagai budaya asing, termasuk budaya Tionghoa.
Tahukah Kamu? Di Belanda, kue ini justru sangat populer dengan nama Klepon, berkat diaspora masyarakat Indonesia yang menetap di sana pasca-kolonialisme. Nama ini digunakan untuk menyebut kue ketan isi gula merah yang menjadi favorit di kalangan komunitas Indonesia di Belanda. Meskipun di Indonesia memiliki beragam nama, di Belanda Klepon menjadi sebutan yang lebih dikenal untuk kue ini.
Kue ini juga menjadi salah satu camilan yang sangat digemari pada bulan Ramadan. Selain sebagai sajian penutup berbuka puasa, Klepon dan Onde-Onde sering hadir dalam berbagai acara berbuka puasa bersama, menambah keceriaan dengan cita rasa manisnya yang khas.