Toponimi Sumber Air Batu Mulai Didata
- 06 Mar 2026 22:22 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Upaya pelestarian sumber mata air di Kota Batu tidak hanya dilakukan melalui konservasi lingkungan, tetapi juga melalui pencatatan identitas budaya yang melekat pada sumber air. Yayasan Nawadya Cita Nusantara mulai mendata toponimi atau nama-nama lokal sumber air beserta sejarahnya.
Pendataan ini dilakukan untuk menggabungkan pendekatan ilmiah dengan pelestarian identitas kultural masyarakat desa. Setiap sumber air akan dicatat berdasarkan nama lokalnya, vegetasi asli di sekitarnya, serta cerita yang berkembang di masyarakat.
Ketua Yayasan Nawadya Cita Nusantara, Syahrul Hadiyatullah, mengatakan banyak nama sumber air sebenarnya memiliki kaitan dengan kondisi ekologis di masa lalu.
“Salah satu contohnya Sumber Dhampul di Desa Tulungrejo, Bumiaji, yang diyakini berasal dari pohon dhampul yang dulu banyak tumbuh di sana,” kata Syahrul. Jumat 6 Maret 2026.
Namun saat ini, pohon dhampul yang menjadi asal-usul nama sumber tersebut sudah tidak lagi ditemukan di kawasan itu. Hilangnya vegetasi asli membuat sebagian identitas ekologis desa perlahan terlupakan.
Karena itu, pendataan dilakukan sekaligus untuk menggali kembali memori kolektif masyarakat terkait sumber air di wilayahnya. Hasil pendataan ini nantinya juga akan menjadi bahan edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekitar mata air.
Selain pendataan, yayasan juga melatih kader lingkungan untuk menanam pohon serta merawat kawasan sumber air. Kegiatan ini dilakukan bersama Komunitas Kaliku yang memiliki pengalaman dalam pemetaan partisipatif dan advokasi pelestarian sumber daya air.
Langkah tersebut dinilai penting karena jumlah sumber mata air di Kota Batu terus menyusut. Dari sekitar 111 titik yang pernah tercatat, kini hanya tersisa 57 sumber yang masih aktif sehingga upaya pelestarian perlu dilakukan secara terpadu, baik melalui pendekatan lingkungan maupun budaya.