Enam Wilayah di Malinau Masuk Zona Endemis DBD
- 27 Jan 2026 21:20 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau – Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau memetakan sejumlah desa di enam kecamatan sebagai zona endemis demam berdarah dengue. Pemetaan mengacu pada riwayat kasus DBD beberapa tahun terakhir.
Wilayah tersebut meliputi beberapa desa di Kecamatan Malinau Kota, Malinau Utara, Malinau Barat, Malinau Selatan Hilir, Malinau Selatan, dan Malinau Selatan Hulu. Wilayah ini menjadi fokus pengawasan intensif dinas kesehatan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Malinau, Jonlayri, mengatakan kasus DBD konsisten muncul di wilayah tersebut selama tiga tahun terakhir.
Data tersebut juga diperkuat laporan kader juru pemantau jentik terkait temuan di lapangan. “Satu wilayah disebut endemis DBD mengacu kasus tiga tahun terakhir dan hasil pemeriksaan jentik rumah ke rumah oleh kader jumantik,” kata Jonlayri pada RRI, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, temuan jentik aedes aegypti menunjukkan potensi penularan masih tinggi. Karena itu, pemetaan dilakukan agar pengawasan lebih terarah dan penularan tidak meluas.
Pada tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 139 kasus DBD di Kabupaten Malinau. Meski menurun dibanding tahun sebelumnya, daerah ini sempat berstatus kejadian luar biasa karena satu pasien meninggal dunia.
Sementara itu, di awal 2026, empat kasus DBD kembali ditemukan di wilayah Malinau Kota. Seluruh kasus tersebut menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Untuk deteksi dini, seluruh puskesmas di wilayah endemis telah dilengkapi alat rapid test NS1. Alat ini mampu mendeteksi virus DBD sejak hari pertama demam.
“NS1 bisa mendeteksi virus demam berdarah sejak hari pertama dan ini gratis di puskesmas,” ujarnya.
Layanan tersebut merupakan bantuan Kementerian Kesehatan melalui Pemerintah Provinsi yang disalurkan ke Dinas Kesehatan Malinau. Selanjutnya, alat didistribusikan ke puskesmas wilayah endemis.
Melalui pemeriksaan dini, dinas kesehatan berharap penanganan lebih cepat dilakukan. Upaya ini diharapkan menekan risiko kematian akibat DBD.