Jejak Pertama Islam di Majene, Begini Ceritanya!
- 26 Feb 2026 09:54 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Majene - Agama Islam mulai memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat Majene sejak abad ke-16. Perubahan itu berawal dari kehadiran seorang ulama pendatang bernama Syekh Abdul Mannan yang memilih menetap di pesisir Salabose, wilayah yang kala itu berada di bawah pengaruh Kerajaan Banggae.
Pada masa tersebut, masyarakat Majene masih memegang kuat kepercayaan lama. Tradisi adat berpadu dengan unsur Hindu dan praktik animisme, terutama dalam ritual laut, panen dan berbagai upacara komunitas pesisir Mandar.
Kehadiran Islam belum dikenal luas dan masih dianggap asing oleh sebagian besar warga.
Syekh Abdul Mannan tidak datang dengan cara yang mencolok. Ia memilih jalan yang tenang dan bersahaja.
Tinggal di tengah masyarakat dan membuka pengajian kecil, memperkenalkan syahadat, mengajarkan tata cara wudu dan salat secara perlahan. Pendekatan ini membuat ajaran Islam diterima tanpa paksaan, tumbuh seiring kepercayaan warga terhadap keteladanan sang ulama yang kemudian dikenal dengan sebutan Tosalama.
Seiring waktu, kabar tentang sosok pendiam yang fasih melantunkan ayat suci itu menyebar dari kampung ke kampung di wilayah Banggae. Cerita tentang kesederhanaan dan keteguhan ajarannya akhirnya sampai ke kalangan bangsawan, termasuk I Moro Daengta Masigi, yang kelak tercatat sebagai raja ketiga Kerajaan Banggae.
Sekitar tahun 1608, I Moro Daengta Masigi memutuskan memeluk Islam. Keputusan ini menjadi titik penting dalam sejarah Majene.
Bersama Syekh Abdul Mannan, ia membangun sebuah masjid batu sederhana di Salabose. Masjid tersebut kini dikenal sebagai Masjid Kuno Syekh Abdul Mannan yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di wilayah Mandar.
Dari masjid inilah, azan pertama dipercaya berkumandang di wilayah kekuasaan Banggae. Suara azan perlahan menggantikan sebagian mantra dan doa lama yang sebelumnya mengiringi ritual adat masyarakat pesisir.
Sejak Islam ditetapkan sebagai agama resmi kerajaan, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial dan pemerintahan. Di sana berlangsung musyawarah kerajaan, pembelajaran baca Al-Qur’an hingga pengaturan pelayaran dan niaga di pesisir Mandar.
Hingga kini, jejak awal masuknya Islam di Majene masih terasa. Tradisi Maulid di Salabose, pengajian di masjid tua, serta cerita turun-temurun tentang Tosalama terus hidup di tengah masyarakat.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa Islam di Majene tumbuh melalui kesabaran, keteladanan, dan kedekatan dengan kehidupan warga, jauh sebelum listrik dan jalan aspal hadir di pesisir Mandar.