Jalangkote vs Pastel: Serupa tapi Tak Sama
- 03 Mar 2026 12:16 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju – Jika dilihat sekilas, jalangkote dan pastel tampak seperti saudara kembar, namun di balik kemiripan itu keduanya menyimpan cerita dan karakter rasa yang berbeda.
Nama jalangkote berasal dari bahasa Makassar, kata jalang memiliki arti berjalan dan kote berarti berteriak atau berseru.
Dahulu, para penjual jalangkote menjajakan dagangannya dengan berkeliling kampung sambil berjalan kaki dan berteriak menawarkan dagangannya.
Sebagai kuliner khas Makassar dan populer di Sulawesi Selatan, jalangkote memiliki bentuk serupa dengan pastel yang berupa setengah lingkaran dan memiliki kulit renyah, serta sama-sama digoreng hingga keemasan. Isian keduanya pun hampir sama, yaitu terdiri dari bihun, wortel, kentang, dan telur.
Ciri paling khas dari jalangkote adalah penyajiannya yang selalu ditemani sambal cuka pedas-manis. Perpaduan sambal yang gurih, manis, pedas dan asam segar inilah yang membuat jalangkote berbeda dengan pastel.
Meskipun sekilas Nampak sama, kulit pastel cenderung sedikit lebih tebal dibanding jalangkote, dengan tekstur renyah di luar namun tetap lembut di bagian dalam. Isian pastel pun lebih bervariasi, selain terdiri dari bihun, wortel, kentang dan telur, terkadang pastel juga berisi potongan daging atau ayam yang dicincang halus.
Selain itu, pastel biasanya dinikmati tanpa saus khusus dan sebagian orang menyantapnya dengan cabai rawit.
Dari sisi sejarah, pastel diyakini mendapat pengaruh dari kuliner Eropa seperti empanada yang masuk melalui masa kolonial. Jalangkote sendiri berkembang dalam tradisi kuliner Bugis-Makassar dan telah menjadi sajian wajib di berbagai acara, mulai dari hajatan hingga jamuan tamu.
Saat bulan Ramadan, jalangkote menjadi salah satu takjil yang digemari masyarakat di kawasan Sulawesi. Meski berbeda asal dan karakter, baik jalangkote maupun pastel sama-sama menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.