Ma’burasa, Warisan Budaya yang Menghangatkan Persiapan Lebaran
- 11 Mar 2026 11:06 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju – Jelang Perayaan Hari Raya Idul Fitri, suasana kebersamaan mulai terasa di banyak kampung di sejumlah daerah yang ada di Sulawesi untuk menjalankan tradisi khas yang dikenal dengan ma’burasa.
Tradisi satu ini merupakan kegiatan membuat buras secara bersama-sama oleh keluarga dan tetangga sebagai bagian dari persiapan menyambut hari Lebaran. Buras sendiri merupakan makanan khas berbahan dasar beras yang dimasak dengan santan, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan direbus hingga matang.
Bentuknya memanjang dan biasanya diikat menjadi beberapa bagian. Buras menjadi hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan saat Idul Fitri dan biasanya disantap bersama lauk seperti ayam, daging atau sambal khas daerah.
Ma’burasa memiliki makna sosial yang kuat dan biasanya dilakukan secara gotong royong. Para ibu menyiapkan beras dan santan, sebagian lainnya menganyam atau melipat daun pisang untuk membungkus buras, sementara yang lain mengikat dan menata buras sebelum direbus dalam panci besar. Di sela-sela kegiatan tersebut, terjalin percakapan hangat, tawa, dan cerita tentang kehidupan sehari-hari.
Tradisi ma’burasa menjadi ruang mempererat hubungan antarwarga, sehingga tidak jarang tetangga datang membantu tanpa diminta, sebagai bentuk kebersamaan yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Tak hanya orangtua, anak-anak pun sering ikut menyaksikan atau membantu hal-hal sederhana, sehingga tradisi ini secara tidak langsung menjadi cara mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Di era modern saat ini, tradisi ma'burasa masih terjaga di masyarakat Sulawesi, meskipun tidak lagi dilakukan bersama-sama secara gotong royong dengan para tetangga.
Hal ini terlihat di masing-masing rumah yang mulai sibuk menyiapkan perlengkapan Ma'burasa seperti daun pisang, beras dan kelapa setiap menjelang hari raya Lebaran.
Selain mempererat silaturahmi, ma’burasa juga mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Dalam proses yang sederhana, tersimpan pesan bahwa persiapan menyambut hari kemenangan tidak hanya tentang hidangan yang tersaji, tetapi juga tentang kebersamaan dan rasa saling membantu.