Waspada Gangguan Makan di Balik Tren Tubuh Ideal
- 03 Mar 2026 19:59 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Gangguan makan atau eating disorder menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang semakin banyak ditemukan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Kondisi ini bukan sekadar soal pola makan, tetapi berkaitan erat dengan cara seseorang memandang tubuhnya, mengelola emosi, hingga tekanan sosial yang dihadapi sehari-hari.
Menurut klasifikasi medis yang di kutip dari laman hellosehat.com, eating disorder adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan pola makan tidak sehat, obsesi berlebihan terhadap berat badan, serta ketakutan ekstrem terhadap kenaikan berat badan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.
Jenis-Jenis Eating Disorder
Beberapa jenis gangguan makan yang umum dikenal antara lain:
Anorexia nervosa
Penderita membatasi asupan makanan secara ekstrem karena takut gemuk, meskipun berat badan sudah sangat rendah. Mereka sering kali memiliki persepsi tubuh yang keliru.
Bulimia nervosa
Ditandai dengan episode makan dalam jumlah besar (binge eating) yang kemudian diikuti perilaku kompensasi seperti memuntahkan makanan, penggunaan obat pencahar, atau olahraga berlebihan.
Binge Eating Disorder
Kondisi ini membuat seseorang makan dalam jumlah besar secara berulang tanpa diikuti upaya mengeluarkan kembali makanan tersebut. Akibatnya, risiko obesitas dan penyakit metabolik meningkat.
Faktor Pemicu
Gangguan makan tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat memicu kondisi ini, di antaranya:
Tekanan standar kecantikan di media sosial. Perundungan terkait bentuk tubuh (body shaming).
Trauma atau stres berat. Rendahnya rasa percaya diri. Faktor genetik dan lingkungan keluarga.
Di era digital saat ini, paparan citra tubuh“ideal” yang terus-menerus dapat memengaruhi cara pandang remaja terhadap diri mereka sendiri. Perbandingan sosial yang tidak sehat kerap memicu keinginan untuk menurunkan berat badan secara ekstrem.
Dampak bagi Kesehatan
Gangguan makan dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti gangguan jantung, kerusakan organ, gangguan hormon, anemia, hingga depresi dan kecemasan. Pada kasus yang parah, kondisi ini bahkan dapat mengancam nyawa.
Selain dampak fisik, penderita juga sering mengalami isolasi sosial, rasa malu, dan tekanan emosional berkepanjangan.
Pentingnya Dukungan dan Penanganan Dini
Penanganan eating disorder memerlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan tenaga medis, psikolog, serta dukungan keluarga. Terapi perilaku kognitif, konseling gizi, dan pemantauan kesehatan rutin menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Masyarakat juga diharapkan lebih bijak dalam menyikapi isu berat badan dan tidak mudah melontarkan komentar negatif terhadap bentuk tubuh orang lain. Edukasi tentang penerimaan diri dan pola hidup sehat perlu diperkuat, terutama di lingkungan sekolah dan keluarga.
Gangguan makan bukanlah bentuk “kurang bersyukur” atau sekadar ingin tampil kurus. Ini adalah masalah kesehatan mental yang membutuhkan empati, perhatian, dan penanganan profesional. Dengan kesadaran bersama, diharapkan semakin banyak individu yang berani mencari bantuan dan pulih dari tekanan yang selama ini dipendam sendiri.