TWA Gunung Meja Tutup sementara Selama Ramadan

  • 20 Feb 2026 21:25 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Aktivitas open trip di Taman Wisata Alam Gunnung Meja diliburkan sementara selama bulan Ramadan. Penutupan dilakukan hingga usai Idulfitri dan akan dibuka kembali pada Maret mendatang.

Kepala Resort TWA Gunung Meja yang ditugaskan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat Daya, Wartho Sapan, mengatakan keputusan tersebut diambil untuk penataan kawasan serta pembersihan jalur pendakian.

“Sementara ini kami tutup open trip sampai Ramadan selesai. Setelah Lebaran baru kami buka kembali,” ujar Wartho Jumat , 20 Februari 2026.

Menurutnya, dalam sebulan terakhir jumlah kunjungan cukup tinggi sehingga perlu dilakukan pembenahan jalur dan evaluasi pengelolaan kawasan. Ia juga menegaskan, selama masa penutupan tidak diperkenankan adanya kunjungan wisata mandiri.

“Kami sarankan jangan dulu masuk, karena masih dalam tahap penataan. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sementara pengelola tidak mengetahui adanya pengunjung,” jelasnya.

Namun demikian, untuk kepentingan penelitian, pihak pengelola masih membuka ruang dengan mekanisme perizinan khusus.

Wartho juga menyoroti adanya pengunjung yang mencoba masuk melalui jalur ilegal. Ia mengimbau masyarakat untuk mematuhi kebijakan penutupan demi keselamatan bersama dan menjaga ekosistem, termasuk kawasan gua yang menjadi habitat satwa liar.

Sementara itu, warga Manokwari, Yuliana Numberi, menilai Gunung Meja memiliki prospek wisata yang sangat baik dalam mendukung promosi pariwisata Papua Barat, khususnya di Kabupaten Manokwari.

Yuliana Numberi Warga Manokwari (Foto: rri/Elko)

“Potensi wisata ini harus didukung bersama. Wisata bukan milik satu kelompok atau komunitas, tapi semua masyarakat bisa menikmati,” katanya.

Ia berpendapat, meskipun dalam suasana Ramadan, pengelolaan wisata tetap bisa berjalan dengan pengaturan yang baik. Menurutnya, momentum tersebut justru dapat menjadi parameter untuk mengukur minat kunjungan di luar musim liburan.

“Dari situ kita bisa mengetahui standar jumlah pengunjung, sehingga bisa menjadi dasar pengembangan pembiayaan dan sarana prasarana yang lebih baik,” tambahnya.

Pendapat lain disampaikan Lisbeth Pattikayhatu, warga Manokwari yang kerap melakukan aktivitas hiking di Gunung Meja. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai “paru-paru kota” yang memberikan oksigen dan kesejukan alami bagi masyarakat.

Salah satu Pengunjung TWA Gunung Meja Manokwari , Lisbeth Pattikayhatu ( Foto: rri/ Elko)

“Gunung Meja ini satu-satunya paru-paru kota. Kita bisa menikmati udara segar, kicauan burung, dan suasana berbeda dari hiruk pikuk kota,” ujarnya.

Lisbeth berharap pengelolaan kawasan semakin ditingkatkan, mulai dari kebersihan jalur, penyediaan tempat sampah di beberapa titik, hingga kemungkinan penerapan tarif khusus untuk mendukung perawatan lingkungan dan asuransi pengunjung.

“Pengunjung juga harus disiplin, jangan membuang sampah sembarangan. Kalau dikelola baik, ini bisa membuka peluang kerja bagi anak-anak Papua dan mendukung UMKM lokal,” katanya.

Ia juga mendorong agar ke depan tersedia ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berjualan produk khas daerah di titik-titik tertentu, sehingga potensi wisata Gunung Meja tidak hanya berdampak pada sektor lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar.

Dengan penutupan sementara ini, pengelola berharap penataan kawasan dapat berjalan optimal sehingga setelah Ramadan, TWA Gunung Meja kembali dibuka dengan kondisi yang lebih tertata, aman, dan nyaman bagi pengunjung.

Rekomendasi Berita