Bupati Najmul Tegaskan Komitmen Lindungi Adat dan Budaya Lombok Utara

  • 26 Feb 2026 23:46 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara - Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, menegaskan bahwa Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kebudayaan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan forum strategis untuk memastikan kebudayaan menjadi arus utama dalam pembangunan daerah.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Musrenbang Kebudayaan 2026 di Camping Beraringan, Kecamatan Kayangan, Kamis 26 Febuari 2026. Menurutnya, tidak semua kabupaten memiliki keberanian dan komitmen menyelenggarakan Musrenbang yang secara khusus membahas sektor kebudayaan.

“Forum ini bukan seremonial. Ini ruang untuk merumuskan gagasan yang benar-benar akan diterjemahkan menjadi program pembangunan,” tegasnya.

Najmul menjelaskan, Musrenbang Kebudayaan diawali dengan forum “Gendurasa”, yakni dialog terbuka antara pemerintah daerah dengan tokoh adat dan tokoh budaya. Forum tersebut menjadi wadah menyerap aspirasi secara langsung sebelum diformalkan dalam perencanaan pembangunan.

Ia menilai pendekatan partisipatif tersebut penting agar kebijakan yang lahir benar-benar berakar pada kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat lokal. Dengan demikian, pembangunan tidak tercerabut dari identitas budaya daerah.

Dalam sambutannya, Najmul juga menekankan pentingnya menjaga adat istiadat dan tradisi sebagai identitas Lombok Utara di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi karakter dan arah masa depan daerah.

Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, lanjutnya, telah menunjukkan keseriusan dengan memasukkan substansi adat dan budaya dalam berbagai regulasi formal, termasuk pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk keberpihakan terhadap pelestarian nilai-nilai lokal.

“Kalau kita ingin membangun daerah yang kuat, maka jati diri dan karakter budayanya harus kokoh,” ujarnya.

Ia berharap Musrenbang Kebudayaan 2026 mampu melahirkan rekomendasi strategis yang tidak hanya berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kebijakan dan program nyata. Momentum ini, kata dia, harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi kebudayaan sebagai pilar pembangunan daerah.

“Budaya adalah kekuatan kita. Mari kita jaga dan pelihara sebagai jati diri bangsa,” tutup Najmul.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita