Nihil Kasus Campak di Lombok Timur, Kewaspadaan Tetap Ditingkatkan

  • 07 Mar 2026 11:14 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Perkembangan kasus campak di Kabupaten Lombok Timur hingga memasuki minggu ketujuh tahun 2026 masih berada dalam kondisi aman dan terkendali. Berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), belum ditemukan kasus positif campak di wilayah tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Lombok Timur, Syahid Romdlan, menjelaskan bahwa dalam empat minggu terakhir hanya ditemukan beberapa kasus suspek yang seluruhnya telah diperiksa melalui uji laboratorium.

“Pada minggu keempat tercatat dua suspek, minggu kelima tidak ada kasus, minggu keenam kembali ditemukan dua suspek, dan minggu ketujuh satu suspek. Namun seluruhnya sudah dilakukan pemeriksaan sampel dan hasilnya dinyatakan negatif campak,” jelas Syahid, Sabtu 7 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa meskipun kondisi saat ini relatif aman, Dinas Kesehatan Lombok Timur tetap meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat sistem pemantauan di seluruh wilayah. “Kami terus memperkuat koordinasi dengan 35 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Setiap puskesmas memiliki petugas surveilans atau intelijen kesehatan yang bertugas memantau perkembangan penyakit menular dan melakukan pelacakan jika ditemukan kasus suspek,” ujarnya.

Menurut Syahid, langkah tersebut penting untuk memastikan respons cepat apabila sewaktu-waktu muncul kasus yang mengarah pada campak sehingga potensi penyebaran dapat dicegah sejak dini. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala campak sejak awal.

Gejala umum yang sering muncul antara lain ruam atau bercak kemerahan pada kulit yang biasanya diawali dengan demam, batuk, pilek, serta penurunan nafsu makan, terutama pada anak. “Campak bisa menyerang semua kelompok usia, baik anak-anak maupun orang dewasa, tergantung tingkat kekebalan tubuh. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi campak pada usia sembilan bulan atau tidak melengkapi imunisasi lanjutan memiliki risiko lebih tinggi terpapar penyakit ini,” ujarnya.

Di beberapa daerah lain di Provinsi Nusa Tenggara Barat seperti Kota Bima dan Dompu, pemerintah daerah telah melaksanakan Outbreak Response Immunization sebagai langkah antisipasi untuk menekan penyebaran kasus. Namun hingga saat ini, Lombok Timur belum memerlukan langkah tersebut karena situasi epidemiologis masih terkendali.

“Untuk Lombok Timur, sampai saat ini belum diperlukan pelaksanaan Outbreak Response Immunization karena belum ditemukan kasus positif. Namun sistem pemantauan tetap berjalan aktif untuk mendeteksi kemungkinan peningkatan kasus,” kata Syahid.

Selain itu, Dinas Kesehatan memastikan ketersediaan vaksin campak di fasilitas pelayanan kesehatan dalam kondisi aman, baik dari sisi stok maupun distribusi. “Stok vaksin campak tersedia dan tidak ada kendala dalam distribusi maupun alat pendukung imunisasi. Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar orang tua memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi lengkap,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila ditemukan suspek campak, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan klinis serta pengambilan sampel untuk memastikan diagnosis. Jika hasilnya positif, pasien akan mendapatkan penanganan sesuai standar, termasuk kemungkinan dirujuk ke rumah sakit apabila diperlukan.

“Namun jika hasil laboratorium negatif, penanganan difokuskan pada pengobatan gejala yang muncul seperti pemberian obat penurun demam dan pemantauan kondisi pasien hingga pulih,” tambahnya.

Dengan kondisi yang masih aman, masyarakat diimbau tetap tenang namun tidak lengah. Kewaspadaan bersama, kelengkapan imunisasi, serta respons cepat dari fasilitas kesehatan menjadi kunci utama dalam menjaga Lombok Timur tetap bebas dari kasus campak positif.

Rekomendasi Berita