Maret, Kasus DBD di Sumbawa Melonjak Tajam

  • 12 Mar 2026 17:09 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumbawa, mengalami lonjakan signifikan dalam dua bulan terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumbawa mencatat jumlah kasus meningkat tajam dari 34 kasus pada Februari, menjadi 97 kasus pada Maret 2026.

Meski terjadi peningkatan kasus, hingga saat ini tidak tercatat adanya korban meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, S.KM., M.PH, mengatakan lonjakan kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Terutama di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.

Menurutnya, kawasan perkotaan menjadi wilayah yang paling diwaspadai. Karena mobilitas penduduk yang tinggi, serta kondisi permukiman yang padat, sehingga berpotensi mempercepat penyebaran nyamuk pembawa virus dengue.

“Wilayah perkotaan menjadi atensi utama karena mobilitas masyarakat tinggi dan kepadatan pemukiman yang dapat mempercepat penyebaran nyamuk Aedes aegypti,” ujarnya, Kamis 12 Maret 2026.

Berdasarkan data Dinkes Sumbawa, sebaran kasus DBD di beberapa kecamatan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Kecamatan Empang tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 29 kasus. Disusul Kecamatan Plampang dengan 15 kasus dan Kecamatan Moyo Hilir yang mencatat 11 kasus. Sementara itu, beberapa wilayah di kawasan perkotaan seperti Puskesmas Sumbawa Unit I, Labuhan Badas Unit I, dan Unter Iwes juga berada dalam pengawasan ketat, karena tingginya kepadatan penduduk.

Untuk mengantisipasi penyebaran lebih lanjut, Dinas Kesehatan telah menginstruksikan seluruh puskesmas di wilayah Kabupaten Sumbawa untuk memperkuat sistem surveilans. Serta meningkatkan kewaspadaan, terhadap setiap laporan kasus yang muncul di masyarakat.

Setiap laporan kasus positif, kata Sarip, harus segera ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan melalui penyelidikan epidemiologi (PE). Guna mengetahui sumber penularan serta potensi penyebaran di lingkungan sekitar.

“Kami menginstruksikan seluruh jajaran puskesmas untuk memperkuat sistem surveilans. Setiap laporan kasus positif harus segera dilakukan penyelidikan epidemiologi maksimal dalam waktu 1x24 jam,” tegasnya.

Selain melakukan pemantauan kasus, Dinkes Sumbawa juga mengintensifkan berbagai langkah pencegahan dan pengendalian penyakit. Beberapa langkah strategis yang telah dilakukan antara lain penyemprotan residu insektisida di dalam bangunan, atau Indoor Residual Spraying (IRS) pada lokasi dengan kasus tinggi.

Penyemprotan tersebut sebelumnya telah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Puskesmas Sumbawa Unit I dan Labuhan Badas Unit I pada akhir 2025 sebagai bagian dari upaya pengendalian vektor.

Selain itu, pemerintah daerah juga menggalakkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara masif di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pemberian larvasida, fogging sesuai standar operasional prosedur, serta penyuluhan langsung kepada masyarakat.

Dinkes bersama puskesmas juga aktif melakukan sosialisasi keliling ke lingkungan permukiman warga. Guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit DBD.

Edukasi juga menyasar lingkungan sekolah, melalui kerja sama antara Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat. Tujuannya, menanamkan kesadaran sejak dini kepada para pelajar, mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Sarip menegaskan bahwa kunci utama dalam memerangi DBD bukan hanya bergantung pada fogging. Tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Ia mengimbau masyarakat untuk secara konsisten menerapkan gerakan 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang-barang bekas, yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Ditambah langkah pencegahan lainnya, untuk menghindari gigitan nyamuk.

“Kunci utama pencegahan DBD adalah kemandirian masyarakat melalui gerakan 3M Plus. Fogging hanya menjadi langkah tambahan untuk mengendalikan populasi nyamuk dewasa,” jelasnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Kesehatan juga telah mendistribusikan bubuk larvasida atau abate secara gratis ke seluruh puskesmas di Kabupaten Sumbawa. Masyarakat dapat memanfaatkan larvasida tersebut, untuk membunuh jentik nyamuk di tempat penampungan air yang sulit dikuras secara rutin.

Dinas Kesehatan berharap, sinergi antara intervensi medis dari pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, dapat menekan angka penyebaran DBD di Kabupaten Sumbawa dalam beberapa bulan kedepan.

Rekomendasi Berita