Laksa dan Cita Rasa Rempahnya yang Khas
- 09 Mar 2026 09:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Laksa dikenal sebagai salah satu hidangan mi berkuah yang populer di kawasan Asia Tenggara. Makanan ini memiliki cita rasa khas karena memadukan mi, kuah gurih berbumbu rempah, serta berbagai pelengkap seperti seafood, ayam, atau tauge. Dalam perkembangannya, laksa banyak ditemukan di Malaysia, Singapura, dan Indonesia dengan ragam variasi yang berbeda di setiap daerah. Di Indonesia sendiri, beberapa daerah seperti Betawi dan Bogor memiliki versi laksa yang menggunakan kuah santan kental dengan aroma rempah yang kuat.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, laksa merupakan kuliner yang berkembang dari budaya peranakan, yaitu percampuran budaya Melayu dan Tionghoa di kawasan pesisir Asia Tenggara. Perpaduan budaya tersebut tercermin dari penggunaan mi sebagai bahan utama yang berasal dari tradisi Tionghoa, sementara kuah santan dan rempah-rempah mencerminkan kekayaan kuliner Melayu. Oleh karena itu, laksa sering dipandang sebagai simbol akulturasi budaya yang melahirkan ragam kuliner khas di wilayah Nusantara dan sekitarnya.
Selain memiliki nilai sejarah, laksa juga dikenal sebagai hidangan yang kaya rasa dan cukup mudah dibuat. Berikut salah satu contoh resep sederhana laksa yang dapat dicoba di rumah.
Bahan utama:
200 gram mi atau bihun
200 gram daging ayam rebus, suwir
2 butir telur rebus
500 ml santan
Tauge secukupnya
Bumbu halus:
4 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 butir kemiri
1 ruas kunyit
1 batang serai
Garam dan gula secukupnya
Cara membuat:
Pertama, tumis bumbu halus hingga harum. Selanjutnya, tuangkan santan dan masak dengan api kecil sambil diaduk agar santan tidak pecah. Setelah kuah matang, masukkan ayam suwir dan koreksi rasa. Kemudian, susun mi atau bihun dalam mangkuk, tambahkan tauge dan telur rebus, lalu siram dengan kuah laksa panas.
Melalui perpaduan mi, santan, dan rempah-rempah, laksa menghadirkan cita rasa gurih yang kaya. Tak heran jika hidangan ini tetap digemari hingga kini dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner di kawasan Asia Tenggara. (RRI/Irene Dyah)