Difki Khalif & Prinsa Mandagie Remake "Seandainya" Vierratale

  • 11 Mar 2026 22:39 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Industri musik Tanah Air kembali diramaikan dengan proyek nostalgia yang segar. Solois Difki Khalif dan Prinsa Mandagie resmi berkolaborasi untuk menghidupkan kembali salah satu lagu ikonik era 2000-an bertajuk “Seandainya”. Kolaborasi ini bukan sekadar bernyanyi bersama, melainkan menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya untuk memberikan interpretasi baru pada lagu yang sudah melegenda tersebut.

Proyek istimewa ini berhasil terwujud berkat kerja sama strategis lintas label antara Musica Studios dan Sony Music. Inisiatif ini membuka kesempatan bagi para musisi muda untuk menafsirkan ulang karya-karya populer dengan sentuhan modern. Dari sekian banyak pilihan lagu yang tersedia, Prinsa Mandagie secara khusus menjatuhkan pilihannya pada lagu karya band Vierratale tersebut.

Alasan pemilihan lagu ini pun didasari oleh kedekatan emosional sang penyanyi dengan karyanya. Prinsa mengaku bahwa lagu tersebut memiliki tempat tersendiri di hatinya karena menemaninya tumbuh besar. "Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku," ungkap Prinsa saat menjelaskan alasannya memilih lagu yang dikenal sebagai salah satu anthem kegalauan generasi 2000-an itu.

Keterlibatan Difki Khalif dalam proyek ini memberikan warna tersendiri karena latar belakangnya yang kental dengan nuansa anak band. Sebagai dua solois yang memiliki karakter vokal yang sangat kontras, tantangan utama mereka adalah menyatukan visi dalam sebuah harmoni. Oleh karena itu, keduanya sepakat untuk menjalani rangkaian workshop intensif demi membangun chemistry yang kuat.

Difki Khalif menjelaskan bahwa proses workshop tersebut sangat krusial untuk menentukan pembagian suara yang tepat agar kualitas vokal mereka tidak saling beradu. "Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis," tutur Difki mengenai proses teknis di balik layar.

Meskipun datang dari latar belakang musikal yang berbeda, perbedaan tersebut justru memicu energi baru yang positif. Aransemen versi terbaru "Seandainya" ini dibuat lebih emosional dengan balutan orkestra yang megah namun tetap mempertahankan karakter pop-rock. Hasilnya, lagu ini terdengar lebih segar dan memiliki kedalaman rasa yang lebih kuat dibandingkan versi aslinya.

Bagi Prinsa Mandagie, membawakan lagu ini memberikan tantangan yang berbeda dari diskografi pribadinya yang biasanya bernuansa dewasa dan sentimental. Ia harus mampu menjaga identitas aslinya sambil memberikan warna baru pada lagu tersebut. "Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri," jelas Prinsa.

Selain sebagai ajang rilis lagu, proyek ini juga menjadi ruang belajar bagi kedua musisi. Prinsa mulai mengeksplorasi jangkauan vokalnya yang lebih luas, sementara Difki belajar beradaptasi dengan dinamika duet. Untuk memastikan penyatuan suara yang mulus, mereka dibantu oleh Barsena Bestandhi yang bertindak sebagai penata harmonisasi vokal dalam lagu ini.

Proses kreatif yang dilalui tidaklah instan, karena mereka harus mencoba berbagai opsi pembagian suara hingga menemukan titik keseimbangan yang pas. Namun, justru perbedaan karakter suara antara Difki dan Prinsa itulah yang menjadi kekuatan utama. Versi ini pun lahir sebagai karya yang unik, menggabungkan dua jiwa yang berbeda dalam satu melodi yang padu.

Momen paling berkesan bagi keduanya adalah saat mendengarkan hasil akhir lagu dengan iringan orkestra yang lengkap. Mereka merasa lagu "Seandainya" telah bertransformasi menjadi bentuk baru yang lebih enerjik namun tetap menyentuh. "Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar," pungkas Prinsa menutup kesan atas kolaborasi spesial ini.

Rekomendasi Berita