Waspada! Sandal Karet Murah "Serba 35 Ribu" Mengintai Kesehatan Kaki Si Kecil
- 04 Mar 2026 15:36 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Belakangan ini, demam sandal karet dengan harga miring menjamur di berbagai pusat perbelanjaan hingga marketplace. Penawaran menggiurkan "Serba 35 Ribu" untuk berbagai model sandal karet warna-warni sukses menarik minat para orang tua. Namun, di balik harganya yang ramah di kantong, para ahli kesehatan mulai menyuarakan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang penggunaan alas kaki murah tersebut bagi pertumbuhan kaki anak.
Fenomena ini terlihat dari menjamurnya lapak pedagang kaki lima dan toko daring yang memajang sandal berbahan karet sintetis atau jelly dengan desain karakter lucu. Harga yang sangat terjangkau membuat orang tua sering kali abai terhadap kualitas material dan ergonomi sandal. Padahal, masa kanak-kanak adalah periode krusial bagi pembentukan struktur tulang kaki yang akan menopang tubuh hingga dewasa.
Risiko kesehatan utama yang mengintai adalah kurangnya dukungan pada lengkungan kaki (arch support). Sebagian besar sandal karet murah memiliki sol yang sangat datar dan tipis. Menurut para ahli podiatri, alas kaki yang terlalu datar memaksa otot-otot kaki bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan, yang dalam jangka panjang dapat memicu kelainan struktur kaki.
Mengutip penjelasan dari ahli podiatri Dr. Megan Leahy melalui laman kesehatan Genmuda, ia memperingatkan bahwa penggunaan sandal karet dalam jangka waktu lama dapat berdampak buruk pada tumit.
"Saat tumit tidak stabil, jari kaki cenderung mencengkram, sehingga dapat menyebabkan peradangan pada tendon, memburuknya kelainan kaki, masalah kuku, mata ikan, dan kapalan," jelas Dr. Leahy.
Selain masalah struktur tulang, kualitas bahan kimia pada sandal murah juga patut diwaspadai. Sandal karet dengan harga sangat rendah sering kali diproduksi menggunakan bahan sintetis yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Hal ini menciptakan lingkungan lembap yang menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan jamur, memicu gatal-gatal hingga infeksi kulit pada kaki anak yang cenderung sensitif.
Dampak lain yang jarang disadari adalah risiko keselamatan fisik saat beraktivitas. Material karet yang terlalu lunak dan lentur pada sandal murah sering kali menjadi penyebab kecelakaan di eskalator. Kaki anak-anak yang kecil sangat rentan terjepit di celah eskalator karena bahan sandal yang mudah "tersedot" oleh mekanisme mesin yang bergerak.
Beberapa penelitian juga menyoroti perubahan cara berjalan (gait) pada anak yang terbiasa memakai sandal jepit atau sandal karet tanpa tali belakang yang kuat. Anak-anak cenderung menyeret kaki atau mengubah langkah alami mereka agar sandal tidak terlepas. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat merambat pada masalah kesehatan di area lutut, pinggul, hingga tulang belakang.
Menanggapi maraknya tren ini, para dokter menyarankan orang tua untuk lebih selektif. Membeli sandal murah sesekali untuk penggunaan durasi singkat seperti ke pantai mungkin tidak masalah, namun menjadikannya alas kaki utama sehari-hari adalah sebuah kekeliruan. Disarankan untuk memilih sandal yang memiliki bantalan tumit yang kokoh dan tali pengikat yang stabil.
Sebagai penutup, kesehatan investasi masa depan anak dimulai dari langkah kaki yang sehat. Meskipun harga 35 ribu rupiah terasa sangat hemat saat ini, biaya pengobatan untuk memperbaiki kelainan struktur kaki atau cedera di masa depan tentu akan jauh lebih mahal. Orang tua diharapkan tidak hanya tergiur oleh warna dan harga, tetapi juga mengutamakan faktor ergonomi demi kenyamanan si kecil.