Sekilas Mirip, Tapi Simak Bedanya PPOK dan TBC

  • 30 Okt 2025 08:01 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) memiliki gejala yang kerap diabaikan di tahap awal karena mirip dengan gangguan pernapasan lainnya. Hal ini disampaikan oleh dr. Natalin A.Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dalam dialog RRI Merauke pada Kamis, 30 Oktober 2025.

“Gejala awal PPOK adalah sesak napas progresif yang makin lama makin berat, serta batuk lama baik berdahak maupun kering,” ujar dr. Natalin. Ia menambahkan, gejala lainnya adalah suara napas tambahan seperti wheezing, kelelahan kronik, dan penurunan berat badan.

Ia menjelaskan bahwa PPOK memiliki karakteristik khas yang membedakannya dengan penyakit pernapasan lain, salah satunya TBC. Meski sama-sama menyebabkan sesak napas dan batuk, TBC biasanya disertai demam serta riwayat kontak dengan penderita.

“Pemeriksaan TBC biasanya dilakukan dengan uji dahak TCM, sedangkan PPOK tidak memerlukan pemeriksaan itu,” ungkapnya. Dalam pemeriksaan fisik, TBC menunjukkan suara napas kasar yang disebut ronhi, serta hasil rontgen yang spesifik.

Menurut dr. Natalin, angka kasus TBC di Papua cukup tinggi sehingga penting bagi masyarakat memahami perbedaan kedua penyakit ini. Ia menekankan bahwa penanganan dan pemeriksaan yang tepat akan menentukan efektivitas pengobatan.

Keterlambatan diagnosis PPOK dapat memperburuk kondisi pasien karena penyakit ini bersifat progresif. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala pernapasan yang berlangsung lama. (Cut Acmer Dhara Vona, Universitas Musamus)

Rekomendasi Berita