Meugang di Aceh Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan
- 17 Feb 2026 22:41 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Aceh, provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia, memiliki tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu Meugang. Selasa ( 17/Februari/2026 )
Meugang berasal dari kata "geu" yang berarti "membuat" dan "mang" yang berarti "makan". Tradisi ini dimulai pada masa Sultan Iskandar Muda, penguasa Aceh pada abad ke-16. Sultan Iskandar Muda membagikan daging kepada rakyat sebagai simbol kesejahteraan dan kepedulian sosial.
Tradisi ini biasanya dilakukan satu atau dua hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Meugang bukan sekadar pesta makan, melainkan simbol rasa syukur dan persiapan spiritual menyambut bulan penuh berkah.
Masyarakat Aceh akan menyembelih hewan seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, dan itik, kemudian memasak dagingnya bersama keluarga besar, kerabat, dan tetangga.
Tradisi Meugang memiliki nilai religius dan sosial yang tinggi. Selain sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan, Meugang juga menjadi ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan antar masyarakat.
1. Tradisi Meugang pada Masa Lalu*
Pada masa lalu, Meugang dilakukan dengan cara menyembelih sapi atau kerbau, kemudian memasak dagingnya bersama keluarga dan tetangga. Tradisi ini dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Meugang menjadi ajang kebersamaan dan solidaritas masyarakat Aceh.
2. Meugang di Era Modern*
Meugang masih dilestarikan hingga saat ini, dengan beberapa perubahan. Masyarakat Aceh masih melakukan tradisi ini dengan cara yang sama, namun dengan penyesuaian dengan zaman modern. Meugang menjadi salah satu identitas budaya Aceh yang membanggakan.
Gnerasi muda saat ini kususnya di Aceh harus melestarikan tradisi Meugang sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Dengan memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam Meugang, mereka dapat menjadi penerus yang baik dan menjaga warisan budaya ini tetap hidup.
Dengan demikian, Meugang dapat terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.