Puskesmas Meureubo di Aceh Barat Perkuat Program Prolanis dan PRB

  • 06 Mar 2026 15:30 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Puskesmas Meureubo di Aceh Barat terus memperkuat pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dan Program Rujuk Balik (PRB) guna mengendalikan peningkatan kasus penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus dan hipertensi yang kini mulai banyak ditemukan pada usia produktif.

Penanggung jawab program Prolanis dan PRB puskesmas Meureubo, Dewi Mulyani menyebutkan, kedua program tersebut merupakan layanan yang disediakan BPJS Kesehatan untuk membantu pasien penyakit kronis untuk mendapatkan pemantauan kesehatan secara rutin tanpa harus selalu berobat ke rumah sakit.

“Prolanis merupakan program pengelolaan penyakit kronis yang dilaksanakan di puskesmas. Penyakit yang termasuk dalam program ini adalah diabetes melitus dan hipertensi karena keduanya menjadi pemicu utama berbagai komplikasi penyakit,” ujar Dewi dalam dialog Indonesia Sehat, Jumat 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan, selain Prolanis, BPJS Kesehatan juga memiliki Program Rujuk Balik (PRB) yang memungkinkan pasien dengan kondisi stabil kembali mendapatkan pelayanan pengobatan di puskesmas setelah sebelumnya ditangani oleh dokter spesialis di rumah sakit.

Dalam program PRB, sejumlah penyakit kronis yang dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama antara lain diabetes melitus, hipertensi, epilepsi, penyakit jantung, asma, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE), serta gangguan kesehatan jiwa seperti skizofrenia.

Dewi Mulyani mengungkapkan, tren penderita penyakit kronis di Aceh Barat juga mengalami peningkatan. Bahkan, kasus diabetes melitus kini mulai ditemukan pada usia remaja. Di salah satu puskesmas misalnya, terdapat pasien diabetes yang sudah terdiagnosis sejak usia 13 tahun dan harus menjalani terapi insulin secara rutin.

Kondisi tersebut dinilai berkaitan erat dengan perubahan pola hidup masyarakat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji.

Melalui Prolanis, pasien tidak hanya mendapatkan obat rutin, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan promotif dan preventif seperti pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, edukasi kesehatan, hingga senam bersama yang dilakukan secara berkala di puskesmas maupun di tingkat desa.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu sakit terlebih dahulu sebelum memeriksakan diri. Pemeriksaan kesehatan minimal enam bulan sekali dinilai penting untuk mendeteksi dini risiko penyakit kronis dan mencegah terjadinya komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.

Dengan optimalisasi program Prolanis dan PRB, diharapkan masyarakat Aceh Barat dapat memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih mudah sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pola hidup sehat.

Rekomendasi Berita