Lemang dan Tape Ketan Tak Pernah Absen Menjelang Ramadhan
- 17 Feb 2026 21:11 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Jika aroma daging rebus (sie reuboh) mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga, maka dapat dipastikan hari Meugang telah tiba. Namun, di balik dominasi hidangan daging yang mewah, ada "duet maut" kuliner yang kehadirannya bersifat wajib dan tak tergantikan: Lemang dan Tape Beras Ketan.
Tradisi menyambut bulan suci Ramadhan di Aceh terasa hambar tanpa kehadiran dua sejoli ini. Lemang yang gurih dan Tape yang manis asam menjadi simbol harmonisasi rasa dalam perayaan hari kemenangan kecil sebelum memasuki bulan puasa.
Perpaduan Tekstur dan Filosofi Rasa
Munculnya pedagang lemang dadakan di pinggir jalan lintas protokol Aceh menjadi pemandangan ikonik setiap kali Meugang tiba. Mengapa kedua makanan ini selalu bersanding?
Keseimbangan Rasa
Lemang yang berbahan dasar ketan putih dan santan memiliki rasa yang sangat gurih dan tekstur yang padat. Untuk menyeimbangkannya, masyarakat Aceh menyajikannya dengan Tape Ketan (Peuyeum) yang berair, manis, dan sedikit asam.
Pencuci Mulut yang Sempurna
Setelah menyantap hidangan daging Meugang yang kaya lemak dan rempah, tape ketan berfungsi sebagai penetralisir alami yang menyegarkan tenggorokan.
Simbol Kedekatan Sosial
Proses fermentasi tape yang memakan waktu 2-3 hari dan pembakaran lemang yang memakan waktu berjam-jam mencerminkan kesabaran dan persiapan matang masyarakat Aceh dalam menyambut tamu agung, yakni bulan Ramadhan.
"Lemang dan Tape itu sudah satu paket. Di Aceh, makan lemang tanpa tape itu seperti makan nasi tanpa lauk. Ini tradisi yang turun-temurun kami jaga setiap menyambut puasa, kalau tape dan lemang belum matang rasanya tidak sempurna " ungkap Mak Cut, seorang ibu rumah tangga yang selalu menjaga tradisi di setap menjelang bulan puasa.
Tradisi yang Menghidupkan Ekonomi Lokal
Hadirnya Lemang dan Tape tidak hanya soal melestarikan lidah, tapi juga menggerakkan ekonomi warga. Menjelang Meugang, permintaan akan bambu muda (buloh) dan daun pisang meningkat drastis. Para pengrajin tape pun kebanjiran pesanan bahkan sejak seminggu sebelum hari H.
Meskipun kini banyak makanan kekinian bermunculan, posisi Lemang dan Tape tetap tak tergoyahkan. Keduanya adalah identitas, bukti bahwa dalam menyambut Ramadhan, masyarakat Aceh selalu menyertainya dengan kegembiraan dan kelezatan yang paripurna.