Lakerda, Hidangan Ikan Asin Klasik dari Laut Aegea yang Mendunia
- 24 Feb 2026 16:51 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Di antara ragam kuliner khas kawasan Mediterania, lakerda menempati posisi istimewa sebagai salah satu hidangan laut tradisional tertua di dunia. Makanan ini berasal dari perairan Laut Aegea dan telah menjadi bagian penting dari warisan kuliner masyarakat Turki serta Yunani selama berabad-abad.
Lakerda dibuat dari ikan bonito atau Sarda sarda, kerabat dekat ikan tuna, yang diawetkan dengan garam laut alami. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan waktu: ikan segar dibersihkan, dipotong melingkar, lalu diasinkan dalam wadah tertutup selama dua hingga tiga minggu. Setelah itu, daging ikan berubah menjadi lembut, gurih, dan beraroma khas laut yang kuat.
Menurut catatan kuliner dari Turkish Culinary Heritage Foundation, tradisi membuat lakerda sudah dikenal sejak masa Kekaisaran Bizantium. Di kota Istanbul, hidangan ini dahulu disajikan untuk bangsawan dan pedagang kaya di tepi Selat Bosporus, sering kali ditemani roti gandum dan anggur lokal.
Kini, lakerda tidak hanya dinikmati di Turki dan Yunani, tetapi juga menjadi sajian populer di restoran seafood modern di Eropa dan Timur Tengah. Cita rasanya yang unik, perpaduan asin, gurih, dan sedikit asam, membuatnya cocok disajikan sebagai meze (hidangan pembuka) atau lauk utama bersama salad segar.
Selain cita rasanya yang kuat, lakerda juga kaya protein, asam lemak omega-3, dan mineral laut, sehingga baik untuk kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Namun, karena kadar garamnya tinggi, para ahli gizi menyarankan untuk menikmatinya dalam porsi sedang.
Seiring meningkatnya minat terhadap kuliner tradisional dunia, lakerda mulai dilirik oleh pecinta makanan fermentasi dan penggemar masakan laut di Indonesia. Beberapa restoran di Jakarta dan Bali bahkan mulai mengadaptasi resep klasik ini menggunakan ikan lokal seperti tongkol atau cakalang.
Lakerda membuktikan bahwa makanan sederhana dari laut pun dapat menjadi simbol warisan budaya dan ketekunan manusia dalam mengolah alam. Dari tepi Laut Aegea hingga meja makan modern, cita rasa gurihnya terus menyatukan tradisi dan selera lintas zaman.