Jangan Sepele, Ini Dampak Buruk Anemia Bagi Tubuh

  • 15 Okt 2025 16:43 WIB
  •  Nias Selatan

KBRN, Nias Selatan: Sering merasa lemas, lesu, atau susah fokus saat belajar atau bekerja? Bisa jadi itu pertanda anemia. Kita mengenal istilah 5L; lemah, letih, lesu, lelah dan lalai, sebagai gambaran umum gejala anemia.

Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Penyebab anemia bisa beragam, mulai dari asupan makanan yang kurang bergizi, kehilangan darah akibat kecelakaan atau menstruasi, hingga adanya penyakit tertentu.

Bahaya anemia terletak pada terganggunya suplai oksigen ke sel-sel tubuh. Jika oksigen tidak sampai, sel menjadi "kelaparan" dan tubuh pun akan kehilangan tenaga serta fungsi normalnya.

Dokter Sumardian Yusrah Fau, MKM mengibaratkan anemia seperti truk pengangkut bahan bakar yang terhambat beroperasi dan berdampak buruk bagi mobilitas dan perekonomian masyarakat. Bila hal ini terjadi terus-menerus, tubuh akan menjadi seperti kota yang lumpuh karena kekurangan energi untuk beroperasi.

“Karena itu kita harus menjaga bagaimana caranya agar tidak kehilangan,” kata dr. Dian Fau, panggilan akrabnya, saat memberikan penyuluhan kesehatan dalam Aksi Bergizi bagi siswa-siswi SMP Swasta Bintang Laut Teluk Dalam, Nias Selatan, Selasa (14/10/2025). Lalu, bagaimana caranya supaya tidak anemia?

Ia menjelaskan, untuk mencegah anemia, mengonsumsi makanan bergizi menjadi langkah utama khususnya makanan yang mengandung zat besi. Makanan tinggi zat besi seperti daging, telur, bayam, brokoli, serta kacang-kacangan sangat dianjurkan untuk membantu pembentukan sel darah merah.

“Jangan lupa selalu ada protein, jangan cuma nasinya aja yang menggunung,” katanya. “Kita tetap makan karbohidrat tetapi tetap diseimbangkan porsinya sesuai dengan pedoman Isi Piringku.”

Selain itu, lanjut dr. Dian, Pemerintah menganjurkan remaja putri untuk mengonsumsi tablet tambah darah satu kali seminggu. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami pertumbuhan dan menstruasi yang menyebabkan risiko kehilangan darah lebih tinggi.

Namun konsumsi tablet penambah darah juga tidak tertutup bagi remaja laki-laki jika memang dari hasil pemeriksaan terbukti menderita anemia. Ia mengajak para siswa datang ke Puskesmas agar dapat memeriksakan kesehatan secara mandiri untuk mengetahui apakah menderita anemia atau tidak.

“Saran kami supaya tidak lupa, tentukan saja waktu atau jadwal minum tablet penambah darah,” ungkapnya. “Misalnya hari ini Selasa, maka minggu depan minumnya juga di hari yang sama.”

Selain jadwal, dr. Dian Fau juga menekankan agar tablet penambah darah dikonsumsi bersama dengan air putih dan tidak bersamaan dengan kopi, teh atau susu karena dapat mengganggu penyerapan zat besi. Tablet penambah darah juga sebaiknya dikonsumsi setelah makan guna mencegah efek samping ringan seperti nyeri ulu hati.

Rekomendasi Berita