Berbalas Pantun, Sarana Hiburan dan Pelestarian Budaya

  • 27 Jun 2025 18:52 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Berbalas pantun merupakan salah satu bentuk hiburan tradisional yang masih diminati hingga kini. Selain menghibur, kegiatan ini juga berperan dalam mempererat hubungan sosial antarindividu, baik dalam lingkungan pertemanan maupun keluarga.

Pantun dikenal sebagai karya sastra lama yang telah berkembang sejak zaman dahulu. Umumnya, pantun terdiri dari empat baris, yakni dua baris pertama berfungsi sebagai sampiran dan dua baris terakhir sebagai isi. Dalam praktik berbalas pantun, kreativitas dan kecepatan berpikir sangat penting karena respons harus disampaikan secara spontan.

Berbalas pantun kerap ditemukan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, pertunjukan seni, hingga seminar atau talkshow. Beberapa daerah di Indonesia bahkan masih mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya lisan.

Selain sebagai hiburan, berbalas pantun juga berfungsi melatih kemampuan berbahasa dan berpikir cepat. Unsur kejutan dalam balasan pantun menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menciptakan suasana akrab dan menyenangkan.

Berikut salah satu contoh berbalas pantun yang sering dijumpai:

Pantun:

Api menyala dikira padam,

Kapal nelayan terlihat karam,

Jangan suka menyimpan dendam,

Kelak hidupnya terasa suram.

Balasan:

Rumah gelap listrik pun padam,

Baru menyala di larut malam,

Aku sudah hapuskan dendam,

Agar hidup tak lagi kelam.

Berbalas pantun bukan hanya sekadar bentuk hiburan, melainkan wadah pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini dapat mendorong generasi muda untuk lebih mencintai sastra lisan serta mengembangkan kreativitas dan kecakapan komunikasi. (Sumber: Gramedia)

Rekomendasi Berita