Hindari Mengganti Empati dengan Manipulasi

  • 07 Mar 2026 20:24 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Gamifikasi bukan obat mujarab tanpa risiko. Kompetisi yang berlebihan dapat memicu kecemasan, terutama pada orang dengan perfeksionisme tinggi. Papan peringkat yang tidak sensitif bisa mempermalukan mereka yang tertinggal. Sistem streak yang kaku bisa menimbulkan rasa bersalah, alih-alih harapan.

Lebih serius lagi, gamifikasi yang memanen data kesehatan tanpa transparansi bisa meruntuhkan kepercayaan publik. Dalam ranah kesehatan, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Tanpa privasi yang kuat, tanpa pilihan yang jelas, dan tanpa prinsip keadilan, gamifikasi dapat berubah menjadi mesin manipulasi—dan itu berbahaya.

Karena itulah, gamifikasi untuk menyehatkan negeri harus berdiri di atas tiga pilar. Pertama, berbasis bukti. Kedua, berpusat pada manusia. Ketiga, berakar pada etika.

Prinsip otonomi harus dihormati. Maksudnya, sistem memberi pilihan, bukan paksaan terselubung. Prinsip keadilan harus dijaga. Maksnanya, jangan sampai gamifikasi hanya dinikmati mereka yang punya gawai canggih, harta atau kuota melimpah. Prinsip non-maleficence harus dipegang. Maknanya, jangan menambah luka psikologis atas nama “motivasi”.

Desain terbaik sering kali sederhana. Lebih banyak kolaborasi daripada kompetisi, lebih banyak “perbaikan” daripada “hukuman”, lebih banyak empati daripada sensasi. ( Sumber : Kemkes Ri )

Rekomendasi Berita