Takjil Godok Batinta Permata dari Kapau
- 01 Mar 2026 17:10 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Sumatera Barat bukan hanya dikenal dengan kekayaan adat istiadat maupun budayanya, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner yang melimpah sebagai warisan turun-temurun yang beragam. Sajian makanan khasnya pun tak kalah kaya dan unik. Salah satu kuliner yang menarik dan banyak diburu saat Ramadan oleh masyarakat Kapau, Kabupaten Agam, adalah godok batinta.
Jajanan dari Sumatera Barat memang tidak pernah habis menjadi perbincangan dan diakui sangat lezat dengan ragam rasa dari perpaduan rempah sebagai bahan adonan yang menghasilkan cita rasa khas. Jajanan tradisional ini memiliki tempat khusus di hati masyarakat Kapau, Kabupaten Agam. Kudapan yang satu ini mungkin terdengar asing dan memang tidak setenar Nasi Kapau atau Katupek Pical Kapau, karena kehadirannya biasanya hanya saat Ramadan atau pada acara penting lainnya.
Godok batinta adalah jajanan tradisional khas Sumatera Barat yang legendaris. Kudapan ini memiliki keaslian rasa dan cara pembuatan autentik yang masih bisa ditemukan di kampung-kampung di daerah Kapau, Kabupaten Agam. Makanan ini menggunakan pisang yang terlalu masak sebagai bahan utama, dipadukan dengan tepung beras dan gula merah. Ketika Ramadan tiba, sebagian masyarakat berburu kudapan berwarna cokelat kehitaman dan manis ini sebagai menu takjil.
Penyebutan godok batinta tak lepas dari bentuk penyajiannya yang dilumuri gula merah (gulo saka) berwarna cokelat kehitaman. Godok batinta bukan sekadar jajanan biasa, melainkan juga bagian dari tradisi masyarakat Minangkabau yang hadir saat Ramadan, bahkan bisa dibilang hanya setahun sekali.
Nama “godok” mengacu pada proses mengolah bahan dasar hingga menjadi adonan yang lembut, sedangkan “batinta” berasal dari warna lapisan gula arennya yang pekat seperti tinta. Jajanan ini selalu hadir saat Ramadan sebagai menu takjil, dan juga dapat dijumpai pada acara adat seperti kenduri. Banyak keluarga memiliki resep turun-temurun yang menjadi ciri khas rasa daerahnya masing-masing.
Yang membuat jajanan ini berbeda adalah penggunaan bahan-bahannya, seperti gula aren lokal yang memiliki rasa lebih pekat dan tidak terlalu manis, serta kelapa parut yang diambil dari pohon kelapa di sekitar perkampungan. Hasilnya adalah jajanan dengan tekstur lembut di dalam dan renyah di luar, berpadu dengan rasa manis gula aren dan aroma kelapa yang segar.
Dengan harga yang terjangkau, kudapan ini masih bertahan dengan keasliannya. Seperti penuturan salah satu penjual di pasar tradisional Kapau, Ibu Leti, “Jajanan ini hanya ada saat Ramadan untuk takjil berbuka. Di hari lain jarang ditemui, kalaupun ada hanya pada acara tertentu saja,” ujarnya. Namun kini, jajanan ini mulai dikenal masyarakat luas, tidak hanya di sekitar Nagari Kapau, karena sempat viral dan banyak ditemui di pasar pabukoan.