Batu Bara dan Awal Pembangunan Jalur Kereta Api di Sumatera Barat

  • 18 Feb 2026 09:18 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Pembangunan stasiun kereta api di Sumatera Barat bermula saat pemerintah kolonial Belanda mengincar kekayaan batubara di wilayah pedalaman Sawahlunto. Jalur kereta api pertama ini dibangun pada tahun 1891 untuk menghubungkan tambang batubara tersebut dengan pelabuhan internasional Teluk Bayur yang saat itu masih bernama Emmahaven.

Stasiun Sawahlunto menjadi titik awal pengangkutan emas hitam yang sangat legendaris dalam sejarah pertambangan di tanah air. Menurut data sejarah dari PT Kereta Api Indonesia bangunan stasiun tersebut kini telah resmi menjadi sebuah museum kereta dan sebagai salah satu tujuan wisata sejarah.

Berikutnya adalah Stasiun Padang atau lebih dikenal sebagai Stasiun Simpang Haru yang merupakan jantung utama dari seluruh aktivitas perkeretaapian Sumatera Barat. Sebagai pusat operasional Divisi Regional 2, stasiun ini melayani ribuan penumpang setiap hari menuju berbagai wilayah kota satelit.

Perkembangan stasiun di Sumatera Barat mencatat sejarah penting dengan hadirnya layanan kereta bandara Internasional Minangkabau yang modern. Berdasarkan laporan resmi Direktorat Jenderal Perkeretaapian stasiun bandara ini merupakan akses cepat menuju pusat Kota Padang yang efisien.

Stasiun Pariaman menyajikan pemandangan indah karena lokasinya yang sangat dekat dengan bibir pantai populer di wilayah tersebut yaitu pantai Gondoriah. Saat ini kereta api Pariaman Ekspres menjadi moda transportasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai dengan harga tiket murah.

Jalur menuju Stasiun Padang Panjang memiliki tantangan teknis yang sangat berat karena harus melewati tanjakan curam Lembah Anai. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat penggunaan teknologi rel gigi dilakukan untuk membantu lokomotif mendaki jalur pegunungan yang terjal.

Saat ini kondisi keaktifan Stasiun Bukittinggi sudah tidak lagi melayani perjalanan kereta api karena jalurnya telah lama mati. Meskipun bangunannya masih berdiri kokoh namun rel di sekitarnya telah tertutup oleh pemukiman padat serta berbagai bangunan pertokoan.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan terus berupaya melakukan reaktivasi pada beberapa stasiun nonaktif demi meningkatkan konektivitas antar wilayah. Proyek perbaikan jembatan dan penggantian rel dilakukan agar layanan kereta api bisa menjangkau daerah pedalaman Sumatera Barat kembali.

Keberadaan stasiun-stasiun ini menjadi bukti nyata kejayaan transportasi masa lalu sekaligus harapan bagi kemajuan ekonomi masyarakat lokal. Semoga pelestarian bangunan bersejarah ini dapat terus dijaga agar generasi mendatang tetap mengenal identitas perkeretaapian di Sumatera Barat.

Rekomendasi Berita