Menanamkan Akar Budaya Anak Arus Modernisasi
- 27 Feb 2026 18:59 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di zaman modern ini banyak hal yang berubah, termasuk cara mendidik anak. Perkembangan teknologi dan arus globalisasi sering kali membuat nilai-nilai budaya mulai terpinggirkan. Padahal, menanamkan akar budaya sejak usia dini sangat penting agar anak memiliki identitas dan karakter yang kuat.
Pelaksana Tugas Kepala Sekolah TK Negeri Pembina Pahandut 2, Kurniasari, mengatakan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Melalui pengenalan cerita rakyat, permainan tradisional, bahasa daerah, serta kebiasaan sopan santun dalam keluarga, anak belajar mengenal jati dirinya. Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran besar dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
“Masa emas yaitu golden age, usia 0 sampai 8 tahun, di mana anak-anak itu pertumbuhan dan perkembangannya berkembang sangat pesat, mulai dari nilai agama dan moral, bahasa, sosial emosional, fisik motorik hingga seni. Nah, di usia anak dini ini peran utama adalah keluarga yang paling utama, kemudian yang kedua adalah sekolah. Karena waktu anak lebih banyak dengan keluarga, maka pondasi utamanya ada di keluarga," ucapnya saat menjadi narasumber dalam Obrolan Budaya di Pro 4 RRI Palangka Raya, Kamis, 26 Februari 2026.
Kurniasari menambahkan keluarga mempunyai peran utama dalam membentuk karakter anak. "Anak usia dini itu seperti kertas kosong. Maka peran kitalah mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik. Kita sebagai contoh, sebagai teladan. Melihat lingkungan sekarang dengan berbagai faktor dan isu, maka orang tua harus lebih dekat kepada anak," katanya.
Ia mengatakan dalam masa emas inilah peran keluarga sangat penting. Menurutnya apabila anak lebih dulu mengenal hal-hal dari luar tanpa pondasi yang kuat di rumah, maka akan sulit mengarahkannya kembali. "Jadi alangkah baiknya jika pondasinya kuat dari rumah, maka ketika mereka kita lepas ke luar, mereka akan tetap baik-baik saja," ucapnya.
Ia menegaskan, masa golden age merupakan periode krusial dalam pembentukan karakter. Pada fase ini, anak sangat mudah menyerap nilai dan kebiasaan dari lingkungan terdekatnya.
Dengan akar budaya yang kuat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlak baik, serta mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya. (Nor Saen Miftah Tariq)