Tradisi Makan Seberangan, Simbol Kebersamaan dan Tata Krama
- 24 Feb 2026 22:21 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Ogan Komering Ilir - Tradisi makan seberangan merupakan salah satu rangkaian penting dalam keramaian bujang gadis masyarakat Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), pada masa lalu. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, keteraturan, serta nilai sopan santun yang dijunjung tinggi dalam pergaulan muda-mudi.
Makan seberangan dilakukan dengan posisi duduk saling berhadapan antara bujang dan gadis yang diatur dalam beberapa barisan. Umumnya, jumlah barisan terdiri dari tiga hingga empat baris. Dalam satu kegiatan, jumlah peserta bisa mencapai puluhan orang, bahkan pernah mencapai sekitar seratus bujang dan gadis.
Suparman Guluk yang pernah menjadi ketua bujang pada masanya di Desa Pedamaran VI, mengatakan pengaturan peserta dilakukan secara tertib oleh ketua bujang.
“Jika jumlah peserta sangat banyak, mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok agar seluruhnya mendapat kesempatan duduk dan mengikuti acara,” ujar Suparman saat dibincangi oleh RRI, Selasa, 24 Februari 2026.
Lokasi pelaksanaan pun cukup luas, bukan berbentuk panggung, melainkan hamparan ruang berukuran besar yang disesuaikan dengan kondisi zaman saat itu. Hidangan yang disajikan dalam tradisi makan seberangan tergolong sederhana. Tuan rumah biasanya menyediakan kopi atau teh, serta makanan ringan seperti kue.
“Anak-anak di sekitar lokasi juga kerap berjualan permen yang kemudian dibeli para bujang dan dibagikan kepada para gadis, sementara para bujang ikut membantu atau melayani sesuai peran masing-masing,” jelasnya.
Menurut Suparman mengatakan tradisi makan seberangan bagian dari rangkaian keramaian, yaitu hiburan masyarakat yang digelar ketika ada kesempatan berkumpul. Pada masa itu, hiburan masih sangat terbatas sehingga keramaian bujang gadis menjadi momen yang dinanti-nantikan.
Rangkaian acara keramaian diisi dengan pantun, nyanyian, dan permainan tradisional seperti incang-incangan. Musik pengiring masih sederhana, menggunakan pengeras suara kecil atau kaset yang diputar berulang.
“Tidak jarang pula terdapat hukuman ringan berupa tugas bernyanyi atau berdiri bagi peserta yang melanggar aturan atau terlambat,” ungkapan suparman.
Dalam pelaksanaannya, ketua bujang memiliki peran penting. Ketua bujang bertugas mengoordinasikan kegiatan, membentuk panitia, mengatur jalannya acara, serta menjaga ketertiban peserta.
Jabatan ketua bujang umumnya dipegang oleh pemuda yang belum menikah dan dianggap memiliki pengalaman serta kemampuan memimpin.
Seiring perkembangan zaman, tradisi makan seberangan dan keramaian bujang gadis kini semakin jarang dijumpai. Perubahan pola hiburan, kemajuan teknologi, serta pergeseran nilai sosial membuat tradisi tersebut perlahan memudar.
Meski demikian, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari sejarah budaya masyarakat Pedamaran yang sarat dengan nilai kebersamaan, keteraturan, dan pendidikan sosial bagi generasi muda.