Review Anime Love Through a Prism, Memanjakan Mata

  • 05 Feb 2026 12:16 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Anime Love Through a Prism hadir sebagai tontonan hangat yang memadukan cerita persahabatan, romansa, dan impian anak muda. Berlatar di London pada awal dekade 1990-an, serial ini menawarkan suasana nostalgik dengan visual yang benar-benar memanjakan mata.

Sejak episode awal, penonton langsung disuguhkan detail kota London yang digambarkan lembut dan estetik, mulai dari jalanan hingga ruang-ruang personal para karakternya.

Kekuatan visual menjadi salah satu daya tarik utama Love Through a Prism. Palet warna yang hangat, pencahayaan halus, serta gaya animasi yang konsisten membuat setiap adegan terasa hidup dan emosional. Visual tidak sekadar menjadi latar, tetapi ikut memperkuat perasaan dan dinamika cerita yang dibangun secara perlahan.

Love Through a Prism berlatar di London pada awal abad ke-20 dan mengikuti kisah Lili Ichijouin, seorang pelajar pertukaran asal Jepang yang datang ke Inggris untuk mendaftar di Akademi Seni Saint Thomas, sebuah sekolah seni bergengsi. Ia membawa mimpi besar untuk menjadi pelukis profesional, namun juga berada di bawah tekanan keluarganya yang mengharapkan ia mampu mencapai prestasi tertinggi dalam waktu enam bulan, atau harus kembali pulang.

Tekanan tersebut semakin terasa ketika Lili bertemu dengan Kit Church, siswa aristokrat berbakat yang dikenal akan kemampuannya dalam melukis sekaligus sikapnya yang tertutup dan berjarak. Jika Kit telah sepenuhnya mendedikasikan hidupnya pada seni, Lili justru masih berada dalam proses pencarian jati diri.

Meski memiliki latar belakang dan kepribadian yang berbeda, ketulusan serta kegigihan Lili perlahan mulai memengaruhi Kit. Hubungan keduanya berkembang dari kecintaan pada seni menjadi ikatan emosional yang semakin penting dalam kehidupan di akademi.

Diproduksi oleh WIT Studio, Love Through a Prism merupakan serial anime terbaru yang tayang serentak di Netflix sejak 15 Januari. Tidak mengikuti format penayangan mingguan, anime ini dirilis langsung lengkap sebanyak 20 episode, sehingga penonton dapat menikmati ceritanya secara utuh. Serial ini ditujukan untuk penonton usia 13 tahun ke atas.

Dari sisi kreator, Love Through a Prism ditulis oleh Yoko Kamio, penulis di balik karya shojo legendaris Jepang, dan disutradarai oleh Kazuto Nakazawa. Nama Nakazawa dikenal lewat sejumlah karya seperti Samurai Champloo, B: The Beginning, dan Terror in Resonance. Kolaborasi keduanya menghadirkan cerita yang emosional dengan pendekatan visual yang kuat dan berkarakter.

Secara keseluruhan, Love Through a Prism menawarkan kisah yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda. Ceritanya berjalan tenang, hangat, dan minim konflik berlebihan, dengan fokus pada persahabatan, romansa yang tumbuh perlahan, serta impian yang ingin diperjuangkan. Bagi penonton yang mencari anime dengan cerita ringan namun berkesan, serta visual yang memanjakan mata, serial ini layak masuk daftar tontonan.

Rekomendasi Berita