Toxic Positivity: Sisi Gelap di Balik Emosi yang Ditahan

  • 10 Mar 2026 21:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Emotional suppression atau penekanan emosi adalah strategi regulasi emosi yang dilakukan seseorang secara sadar berupaya menyembunyikan tanda-tanda eksternal dari perasaan yang sedang dialami. Berbeda dengan pengelolaan emosi yang sehat, metode ini dilakukan dengan cara menelan perasaan negatif seperti kemarahan atau kesedihan agar tidak terlihat oleh orang lain.

Menurut James Gross (2002) dalam jurnal Psychophysiology, mekanisme ini hanyalah bentuk penyumbatan ekspresi emosional yang tidak menghilangkan emosi sepenuhnya, melainkan hanya menyimpannya di bawah permukaan kesadaran.

Secara fisiologis, menahan emosi terus-menerus memberikan efek beban nyata pada tubuh. Saat seseorang menahan ekspresi emosional, sistem saraf simpatik tetap berada dalam kondisi waspada tinggi (hyperarousal).

Studi yang dirilis Harvard Health Publishing menunjukkan bahwa seseorang yang sering melakukan penekanan emosi cenderung memiliki detak jantung yang lebih cepat dan tekanan darah yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi stres kronis yang terpendam ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.

Dampak psikologis dari kebiasaan ini juga sangat berpengaruh terhadap kemampuan merasakan kepuasan hidup. Penekanan emosi yang kronis bisa menyebabkan fenomena kebas emosional atau emotional numbing.

John dan Gross (2004) dalam Journal of Personality mengungkapkan bahwa otak sebenarnya tidak bisa hanya memilih menekan emosi negatif, sehingga emosi positif seperti kebahagiaan pun ikut teredam. Akibatnya, individu dapat merasa hampa, terputus dari jati dirinya, dan mengalami penurunan fungsi kognitif karena energi mental terkuras habis hanya untuk menahan luapan emosi.

Dalam aspek sosial, emotional suppression justru sering merusak hubungan interpersonal seseorang. Berdasarkan American Psychological Association (APA), saat seseorang menyembunyikan perasaan, orang di sekitarnya bisa merasakan adanya ketidakjujuran emosional. Hal tersebut menghambat terciptanya ketulusan hubungan. Komunikasi menjadi tidak efektif karena masalah yang mendasarinya tidak pernah diungkapkan secara jujur, sehingga menciptakan kesalahpahaman yang dapat memicu isolasi sosial.

Sebagai langkah perbaikan, para ahli kesehatan mental menyarankan transisi dari penekanan emosi menuju emotional reappraisal atau cognitive reappraisal. Emotional Reappraisal atau penilaian kognitif adalah strategi CBT yang didukung oleh penelitian yang memutus siklus umpan balik antara pikiran negatif dan emosi yang meluap-luap.

Alih-alih merespons secara otomatis terhadap perasaan yang menyakitkan, teknik ini membantu mengambil langkah mundur dan menafsirkan ulang situasi melalui sudut pandang yang lebih seimbang. Bukan lagi menyembunyikan perasaan tetapi, memberi label pada emosi mereka dan mencari sudut pandang baru yang lebih konstruktif.

Mengakui bahwa semua emosi adalah valid merupakan kunci untuk mencapai ketenangan batin. Dengan memproses emosi secara terbuka dan sehat, seseorang tidak hanya memperbaiki kesehatan fisiknya, tetapi juga membangun hubungan yang lebih real dengan orang lain.

Rekomendasi Berita