Pepatah Lama: Besar Pasak daripada Tiang
- 11 Mar 2026 11:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Menjelang datangnya Hari Raya Idulfitri, suasana di sebuah kampung kecil di tepian sungai terasa semakin hidup. Rumah-rumah mulai dibersihkan, halaman disapu rapi, dan aroma kue kering tercium dari dapur warga. Bagi masyarakat kampung itu, Idulfitri bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan mewah, tetapi juga tentang kebersamaan dan rasa syukur setelah sebulan menjalankan ibadah puasa.
Di kampung itu hiduplah seorang lelaki bernama Pak Saloi. Ia dikenal ramah dan pandai bergaul. Namun Pak Saloi memiliki satu kebiasaan yang sering membuat orang-orang di sekitarnya menggelengkan kepala, ia senang memaksakan keinginan agar terlihat lebih dari orang lain.
Suatu sore di penghujung bulan Ramadan, Pak Saloi berjalan pulang dari pasar. Ia melihat beberapa tetangganya sedang sibuk mempersiapkan kebutuhan Lebaran. Ada yang membeli kue kering, ada yang membawa pakaian baru untuk anak-anaknya.
Di depan sebuah toko pakaian, Pak Saloi melihat tetangganya, Pak Hasan, sedang memilih baju koko dan sarung.
“Pak Hasan, belanja untuk Lebaran?” sapa Pak Saloi.
“Iya, Pak Saloi. Alhamdulillah, sedikit-sedikit dari hasil menabung selama setahun,” jawab Pak Hasan sambil tersenyum.
Pak Saloi mengangguk, tetapi dalam hatinya muncul keinginan untuk memiliki lebih banyak. Ia membayangkan keluarganya mengenakan pakaian baru yang mahal, meja makan penuh dengan berbagai kue Lebaran, bahkan ingin membeli televisi baru agar rumahnya terlihat lebih meriah saat hari raya.
Malam itu, Pak Saloi berbicara kepada istrinya, Sari.
“Sari, Lebaran tahun ini kita harus meriah. Kita beli baju baru untuk semua, kue Lebaran yang banyak, dan mungkin televisi baru juga,” kata Pak Saloi dengan penuh semangat.
Sari terdiam sejenak. “Bang, kalau untuk baju anak-anak mungkin masih bisa. Tapi kalau semuanya sekaligus, uang kita tidak cukup. Tabungan kita hanya sedikit.”
Namun Pak Saloi tetap bersikeras. Ia tidak ingin keluarganya terlihat sederhana dibandingkan tetangga lain. Tanpa banyak berpikir, ia meminjam uang kepada seorang kenalan di pasar.
Beberapa hari kemudian, rumah Pak Saloi memang tampak meriah. Ada toples-toples berisi kue kering di meja, pakaian baru tergantung rapi, bahkan sebuah televisi baru berdiri di ruang tamu.
Ketika Hari Raya Idulfitri tiba, rumah Pak Saloi ramai dikunjungi tamu. Ia merasa bangga melihat semua orang memuji hidangan dan suasana rumahnya.
Namun kebanggaan itu tidak bertahan lama.
Beberapa minggu setelah Lebaran, Pak Saloi mulai kebingungan memikirkan utang yang harus dibayar. Penghasilannya sebagai pekerja serabutan tidak selalu cukup untuk menutup cicilan. Sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.
Sari mencoba mengingatkan dengan lembut.
“Bang, Lebaran memang hari yang membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu tidak harus dipaksakan. Sekarang kita harus bekerja lebih keras untuk membayar utang.”
Pak Saloi terdiam. Ia mulai menyadari bahwa kegembiraan yang dipaksakan justru meninggalkan beban yang berat setelahnya.
Suatu sore, Pak Saloi duduk di beranda bersama Pak Hasan.
“Pak Hasan,” katanya pelan, “saya baru mengerti sekarang. Saya terlalu memaksakan diri saat Lebaran kemarin.”
Pak Hasan tersenyum bijak.
“Dalam hidup, kita harus menyesuaikan keinginan dengan kemampuan. Kalau tidak, kita bisa terjebak dalam kesulitan.”
Sejak saat itu, Pak Saloi belajar hidup lebih sederhana. Ia mulai menabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan hari raya tahun berikutnya. Ia juga menyadari bahwa kebahagiaan Idulfitri sebenarnya bukan pada kemewahan, melainkan pada rasa syukur dan kebersamaan.
Kisah Pak Saloi pun sering diceritakan kembali oleh warga kampung sebagai pelajaran. Bahwa dalam menyambut hari raya sekalipun, seseorang tidak seharusnya memaksakan keinginan di luar kemampuannya.
Sebab seperti pepatah lama yang sering diucapkan orang tua di kampung itu "jangan sampai besar pasak daripada tiang". Jika keinginan lebih besar daripada kemampuan, yang datang bukanlah kebahagiaan, melainkan kesulitan yang berkepanjangan.