Bisik Tradisi, Ruang Diskusi Budaya di Kalimantan Barat

  • 16 Mar 2026 19:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Bioskop Keliling Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Kalimantan Barat bersama komunitas Sanggar Bougenville, Weng Coffee Serdam, RRI Pro 4 Pontianak menggelar kegiatan bertajuk “Bisik Tradisi”, sebuah ruang diskusi santai yang menggabungkan pemutaran film, pertunjukan musik, serta dialog tentang budaya tradisi di Kalimantan Barat, di Weng Coffe Serdam, Minggu, 15 Maret 2026.

Pamong Budaya BPK Wilayah XII Kalbar, Tutup Kuncoro menjelaskan bahwa Program inibbertujuan memfasilitasi inisiatif dan gagasan kreatif dari komunitas seni dan budaya. Menurut Tutup, “Bisik Tradisi” dirancang sebagai ruang yang intim bagi masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi, serta menikmati karya budaya dalam suasana santai.

“Kegiatan ini sebenarnya ruang yang intim. Kita bisa ngopi, nonton, lalu ngobrol bersama tentang budaya-budaya yang ada di Kalimantan Barat, terutama budaya tradisi,” ujar Tutup, saat ditemui di sela kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, BPK Wilayah XII juga menayangkan sejumlah film hasil produksi lembaga tersebut yang dibuat melalui kolaborasi dengan komunitas film lokal. Program pemutaran film sendiri, lanjutnya, telah berlangsung sejak sekitar tahun 2012–2013, yang sebelumnya banyak digelar di kampung-kampung.

Tutup menambahkan, memasuki tahun 2026, kegiatan pemutaran film mulai diarahkan ke pusat-pusat kota dengan melibatkan ekosistem kreatif yang lebih luas, seperti komunitas film dan musik.

"Kita menggunakan satu atau beberapa film yang sebenarnya film ini produksi dari BPK Wilayah XII hasil dari kerjasama dengan komunitas film juga. Jadi film itu juga hasil inisiasi dan respon. Kita memfasilitasi ide - ide kreatif dari teman - teman komunitas untuk melakukan suatu karya film, dan film ini jadi pemantik diskusi kita pada malam ini," jelas Tutup.

Film yang diputar pada kesempatan ini berjudul " Saham & Bingge: Tradisi dan Identitas Dayak Kanayatn.

Selain pemutaran film, acara juga menampilkan pertunjukan musik dari Band yang merupakan bagian dari Sanggar Bougenville. Meski dikenal sebagai komunitas tari, sanggar tersebut juga mengembangkan komunitas musik yang menciptakan karya-karya dengan mengadaptasi unsur tradisi ke dalam bentuk musik kekinian.

Melalui kegiatan ini, komunitas film dan musik diharapkan dapat menampilkan cara pandang mereka terhadap budaya tradisi melalui karya kreatif yang dipertunjukkan kepada publik.

Tutup mengatakan, bahwa kolaborasi dengan pelaku usaha juga penting agar ekosistem budaya dapat berjalan beriringan dengan sektor ekonomi.

“Pemajuan kebudayaan tanpa ekonomi juga tidak akan berjalan. Ekonomi budaya menjadi salah satu dimensi penting dalam indeks pembangunan kebudayaan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita