Viral di Media Sosial, Kenapa Ceremonial Matcha Mahal?

  • 28 Feb 2026 14:20 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Belakangan ini ceremonial matcha viral di media sosial. Banyak yang rela bayar mahal demi warna hijau cerah dan label “grade tertinggi”. Tapi sebenarnya, apa yang bikin ceremonial matcha mahal? Dan apakah memang berbeda secara ilmiah dibanding matcha biasa atau yang artifisial?

Secara definisi, matcha adalah bubuk teh hijau dari tanaman Camellia sinensis yang dibudidayakan dengan metode khusus. Pada kualitas tinggi, tanaman ditanam dengan teknik shade-growing sekitar 20–30 hari sebelum panen. Proses ini meningkatkan produksi klorofil dan asam amino, terutama L-theanine, yang berkontribusi pada rasa umami dan efek relaksasi yang tetap fokus. Daun muda kemudian dikukus untuk mencegah oksidasi, dikeringkan, lalu digiling perlahan dengan batu hingga menjadi bubuk sangat halus.

Matcha seremonial—yang secara tradisional digunakan dalam upacara minum teh Jepang—biasanya berasal dari panen pertama (first harvest) dan memiliki standar mutu ketat. Salah satu daerah penghasil yang terkenal adalah Uji. Ciri khasnya terlihat dari warna hijau cerah (indikator klorofil tinggi), rasa lebih lembut dan tidak terlalu pahit, serta tekstur partikel yang sangat halus. Keseimbangan senyawa seperti katekin dan L-theanine membuat profil rasanya lebih umami dan tidak terlalu astringen.

Sebaliknya, yang sering disebut “matcha artifisial” biasanya terbagi dua. Pertama, matcha culinary grade yang tetap berasal dari Camellia sinensis, tetapi menggunakan panen berikutnya dengan rasa lebih pahit dan warna kurang cerah. Kedua, produk campuran yang ditambah pewarna atau perisa, atau hanya bubuk teh hijau biasa tanpa proses peneduhan. Pada kategori terakhir inilah istilah “artifisial” lebih tepat digunakan karena tidak memenuhi definisi matcha tradisional.

Dari sisi komposisi, matcha seremonial cenderung mengandung antioksidan seperti EGCG dan L-theanine dalam kadar lebih optimal. Namun kualitas ini sangat dipengaruhi penyimpanan. Paparan cahaya, oksigen, dan suhu tinggi bisa menurunkan klorofil dan membuat rasa lebih pahit. Artinya, label “premium” saja tidak cukup—proses budidaya, pengolahan, dan penyimpanan tetap jadi faktor utama.

Jadi, viralnya ceremonial matcha bukan sekadar soal estetika di kamera. Ada perbedaan nyata dalam metode tanam, proses produksi, dan kualitas senyawa di dalamnya. Harga yang lebih tinggi umumnya berkaitan dengan proses yang lebih panjang dan standar mutu yang lebih ketat—bukan sekadar tren.

Rekomendasi Berita