Puasa dan Kesehatan: Siapa yang Sebaiknya Tidak Berpuasa

  • 06 Mar 2026 08:12 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Berpuasa pada bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam ajaran Islam terdapat keringanan bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam dunia medis, beberapa penyakit memang membuat seseorang tidak dianjurkan untuk berpuasa karena dapat memperburuk kondisi tubuh jika tidak mendapatkan asupan makanan, minuman, dan obat secara teratur.

Salah satu kelompok yang perlu berhati-hati adalah penderita Diabetes Mellitus, terutama yang kadar gula darahnya tidak stabil. Puasa dapat menyebabkan penurunan gula darah secara drastis atau justru peningkatan kadar gula jika pola makan tidak terkontrol saat sahur dan berbuka. Kondisi ini berisiko menimbulkan hipoglikemia atau hiperglikemia yang dapat membahayakan kesehatan.

Selain itu, penderita penyakit jantung tertentu juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa. Pasien yang baru saja mengalami serangan jantung atau memiliki gangguan jantung yang berat biasanya membutuhkan jadwal makan dan minum obat yang teratur. Jika dipaksakan berpuasa tanpa pengawasan medis, kondisi jantung dapat menjadi tidak stabil.

Penderita gagal ginjal juga termasuk kelompok yang sering tidak dianjurkan berpuasa. Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk menjalankan fungsinya dalam menyaring zat sisa dari tubuh. Kurangnya asupan cairan dalam waktu lama dapat memperburuk kondisi ginjal, terutama pada pasien yang sudah menjalani terapi rutin atau memiliki fungsi ginjal yang menurun.

Selain penyakit kronis, orang yang mengalami gangguan lambung seperti Gastritis berat juga perlu berhati-hati. Perut yang kosong dalam waktu lama dapat memicu peningkatan asam lambung yang menyebabkan nyeri, mual, bahkan muntah. Jika gejala sering kambuh, berpuasa justru dapat memperparah iritasi pada dinding lambung.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berpuasa, penderita penyakit tertentu sangat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis. Dokter dapat menilai apakah kondisi pasien masih memungkinkan untuk berpuasa atau sebaiknya menunda dan menggantinya di waktu lain. Dengan pertimbangan yang tepat, ibadah puasa dapat dijalankan tanpa mengabaikan kesehatan tubuh.

Rekomendasi Berita