Tips Menjaga Gizi Anak saat Belajar Puasa di Bulan Ramadan

  • 08 Mar 2026 09:31 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Anak-anak dapat mulai belajar berpuasa sejak usia sekolah, namun perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi fisik masing-masing anak. Hal tersebut disampaikan Lulu Ma’rifatun Khusna, A.Md., Gz, tenaga gizi dari Puskesmas Siantan Tengah dalam program Indonesia Sehat, Jumat, 6 Maret 2026.

Menurut Lulu, anak usia 6–7 tahun sudah dapat diperkenalkan dengan puasa. Namun, orang tua disarankan untuk menerapkannya secara bertahap agar anak dapat beradaptasi.

“Sebenarnya untuk anak bisa kita mulai belajar puasa itu dari usia sekolah yaitu dari usia 6–7 tahun sudah boleh mulai berpuasa. Akan tetapi baiknya puasa itu dilakukan dengan cara bertahap.

Pertama, mungkin dari pagi sampai jam 12 siang itu nanti dia sudah boleh berbuka, tapi kalau dilihat dari kondisinya yang anaknya sanggup, bisa dilanjutkan sampai sore atau magrib. kembali lagi karena setiap kemampuan anak ini berbeda-beda,” ujarnya.

Selain itu, kebutuhan gizi anak saat berpuasa juga berbeda dengan orang dewasa. Anak yang masih dalam masa pertumbuhan memerlukan energi lebih untuk mendukung aktivitas dan konsentrasi saat belajar di sekolah.

“Untuk kebutuhan gizi jelas berbeda, dimana kalau orang dewasa itu kebutuhannya sekitar 1.200 kalori. Nah, kalau untuk anak-anak akan lebih banyak karena dia masa pertumbuhan. Jadi yang dipakai lebih banyak, energi yang dikeluarkan juga lebih banyak karena anak-anak lebih butuh konsentrasi saat belajar di sekolah. Kalau bisa ketika puasa, menu sahurnya lebih diutamakan yang banyak protein hewaninya agar membuat anak kenyang lebih lama,” ujar Lulu, menjelaskan.

Saat bulan puasa, banyaknya jajanan sering kali menjadi tantangan bagi orang tua untuk menjaga pola makan anak. Namun menurut Lulu, anak tetap boleh jajan selama porsinya dibatasi dan tetap diimbangi dengan makanan utama yang bergizi seimbang.

“Jadi nggak masalah mba sebenarnya kalau mau jajan. Buka puasa itu minum air putih, terus kalau anaknya pengen yang manis, dari jajanan itu boleh tapi dibatasi. Setelah makan jajanan itu, nah boleh deh sholat dulu, baru makan makanan utama yang bergizi seimbang tadi yang sudah disiapkan oleh orang tuanya di rumah,” katanya.

Ia juga menyarankan agar orang tua mengalihkan pilihan jajanan manis ke buah-buahan yang lebih sehat. Salah satunya dengan mengajak anak membuat sop buah sendiri di rumah, mengingat minuman yang dijual di luar sering kali menggunakan susu kental manis dalam jumlah banyak.

Selain asupan gizi, pola tidur juga berpengaruh terhadap kondisi anak saat belajar berpuasa. Perubahan waktu makan saat sahur dapat memengaruhi waktu istirahat anak.

“Memang berpengaruh. Kalau berpuasa itu kan jam sahur itu sudah mengganggu waktu tidurnya. Karena yang biasanya tidur nah waktu tidurnya kepotong karena sahur, nanti setelah pulang sekolah itu bisa istirahat tidur siang sama orang tuanya atau orang tua mengajak anak untuk tidur siang,” ujarnya.

Sementara untuk aktivitas fisik, anak tetap dianjurkan berolahraga meskipun sedang belajar berpuasa. Namun jenis olahraga yang dilakukan sebaiknya ringan agar tidak terlalu menguras energi.

“Jadi kita lihat lagi, olahraganya yang tidak terlalu berat, olahraga ringan saja, seperti jalan sehat. Tapi aktivitas fisik itu penting untuk dilakukan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita