Saeran Samsidi, Budayawan penggerak Literasi dari Banyumas

  • 10 Mar 2026 17:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Upaya menjaga literasi tidak selalu lahir dari lingkungan akademik yang formal. Di Banyumas, gerakan tersebut tumbuh dari tekad Saeran Samsidi, salah satu budayawan yang konsisten menghidupkan budaya literasi melalui komunitas yang ia bangun. Bagi Saeran, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca atau menulis, tetapi juga cara masyarakat memahami dan merawat kebudayaannya sendiri.

Saeran Samsidi lahir pada tanggal 23 April 1950 di Kober, Purwokerto Barat. Ia juga dikenal dengan nama “Pak Banjir” yang berasal dari nama tokoh dalam cerita Jawa. Penggunaan nama tersebut merupakan salah satu bentuk antusiasmenya dalam mempopulerkan nama “Pak Banjir” di tengah masyarakat, sekaligus upaya membangun citra yang erat kaitannya dengan Banyumas dalam mengeluarkan karya-karyanya.

Sebagai budayawan yang antusias melestarikan budaya baca dan tulis, Saeran Samsidi aktif dalam berbagai kegiatan literasi berbasis budaya lokal Banyumas. Ia menulis esai dan opini di media lokal dan media sosial pribadinya, sekaligus mendirikan komunitas yang dikenal dengan TBM Pak Banjir (Taman Bacaan Masyarakat) dan TBBA (Taman Baca Bermain Anak) yang dibangun di rumah pribadi dan rumah anaknya.

“Perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa. Untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, maka perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi,” tulis Saeran.

TBM dan TBBA Pak Banjir merupakan bagian dari langkah Saeran Samsidi dalam membangun minat baca dan tulis di tengah-tengah masyarakat. Ia juga giat menarik perhatian anak-anak dengan menyediakan berbagai fasilitas, seperti buku-buku bergambar, kliping dongeng, cerita anak, buku pengetahuan, dan sebagainya. Upaya menjaga literasi ia mulai dengan membangun minat terhadap buku-buku bacaan sejak dini.

Saeran Samsidi menunjukkan bahwa literasi dapat lahir dan dirawat secara bertahap di tengah-tengah masyarakat. Melalui pendekatan yang akrab dengan masyarakat dan anak-anak, gerakan literasi diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat terus diposisikan sebagai ruang belajar bersama di Banyumas. (Ninda)

Rekomendasi Berita