Membaca Sastra: Petualangan Tanpa Batas
- 15 Jan 2026 07:15 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto- Sastra tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga membuka cara pandang baru dalam memahami kehidupan dan dunia. Melalui membaca karya sastra, seseorang dapat “hidup” dalam berbagai situasi dan sudut pandang yang berbeda, tanpa harus mengalaminya secara langsung di dunia nyata dan menemukan dunia yang sangat asing.
“Membaca sastra adalah proses belajar merasakan kehidupan orang lain. Serius itu juga dalam tentang empati. Cara melatihnya bisa dengan membaca karya-karya fiksi, karena kita hidup di kehidupan lain melalui narasi, puisi, dan cerita, kita tidak hanya membaca kata, tetapi memahami nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Wening Aulia Dewani, seorang Book Enthusiast dalam acara Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2.
“Saat ini muncul fenomena bookstagram dan bookgram yang kini berkembang di media sosial. Para influencer literasi memiliki peran signifikan dalam menghidupkan kembali minat baca di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Berbagai konten perbukuan yang disajikan secara kreatif dinilai mampu menarik perhatian sekaligus menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari gaya hidup anak muda masa kini,” kata Adriansyah Subekti.
Di tengah kuatnya pengaruh media sosial, keberadaan akun-akun bookgram dinilai efektif dalam mengajak masyarakat untuk tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi lebih mendalam mengenai karya-karya sastra. Melalui unggahan ulasan buku, diskusi daring, hingga rekomendasi bacaan, media sosial menjadi ruang baru yang mempertemukan pembaca dengan dunia sastra secara lebih dekat dan relevan.
Membaca karya sastra berperan penting dalam menumbuhkan empati. Empati dipandang sebagai nilai kemanusiaan yang dapat diasah melalui kebiasaan membaca, karena pembaca diajak memahami perasaan, pengalaman, dan sudut pandang tokoh-tokoh dalam cerita. Hal tersebut sejalan pandangan Ka Wening yang menilai sastra sebagai sarana belajar merasakan kehidupan orang lain.
Pada kesempatan tersebut, Ka Adriansyah dan Ka Wening turut merekomendasikan sejumlah buku yang layak dibaca dan dipahami. Beberapa di antaranya adalah Sentimentalisme Calon Mayat, novel Semusim dan Semusim Lagi, serta karya sastra dunia seperti Life of Pi karya Yann Martel dan Too Much of Life karya Clarice Lispectorb dan ada banyak buku lainnya. (Silma)