Benarkah Kunyit dapat Merusak Ginjal?

  • 10 Mar 2026 10:52 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Kunyit (Curcuma longa) telah lama menjadi primadona dalam pengobatan tradisional Indonesia karena kandungan kurkuminnya yang bersifat anti-peradangan dan antioksidan. Namun, belakangan muncul kekhawatiran: apakah konsumsi kunyit berlebihan justru bisa merusak ginjal?

Dalam unggahan video terbaru di kanal youtube Dokter Fery TV, dr. Fery Juliawan membedah fakta ilmiah mengenai hubungan antara rempah kuning ini dengan fungsi ginjal.

Sebelum membahas potensi dampak negatifnya, dr. Fery terlebih dahulu menyoroti berbagai manfaat kunyit bagi kesehatan. Rempah ini diketahui memiliki efek anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan kronis dalam tubuh. Selain itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa kurkumin berpotensi menghambat pertumbuhan beberapa jenis sel kanker.

Kunyit juga dikaitkan dengan perlindungan terhadap berbagai organ vital. Senyawa aktif di dalamnya dilaporkan dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sekaligus melindungi organ seperti hati dan jantung dari kerusakan. Karena alasan inilah kunyit sering dimanfaatkan sebagai bahan jamu maupun suplemen herbal.

Meski demikian, konsumsi kunyit secara berlebihan atau dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah pada sebagian orang. Salah satu risiko yang sering dibahas adalah potensi terbentuknya batu ginjal. Kunyit diketahui mengandung oksalat dalam jumlah cukup tinggi, dan penelitian tahun 2016 menunjukkan bahwa oksalat dapat membentuk kristal yang memicu batu ginjal (nefrolitiasis), terutama pada individu yang memang memiliki kecenderungan terhadap kondisi tersebut.

Selain itu, beberapa penelitian laboratorium juga menemukan kemungkinan dampak toksik pada dosis yang sangat tinggi. Studi pada hewan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa pemberian kurkumin dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar kreatinin dan urea, dua indikator yang sering digunakan untuk menilai fungsi ginjal. Walaupun temuan ini tidak selalu langsung berlaku pada manusia, hasil tersebut tetap menjadi pengingat bahwa konsumsi herbal pun perlu dibatasi.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan interaksi kunyit dengan obat tertentu. Kunyit dapat memengaruhi kerja obat pengencer darah maupun obat hipertensi. Pada pasien dengan penyakit ginjal kronis, interaksi ini berpotensi menambah beban kerja ginjal sehingga penggunaannya sebaiknya diawasi secara medis.

Agar tetap aman, dr. Fery menyarankan konsumsi kunyit tidak melebihi 3 gram per hari. Jika digunakan dalam bentuk suplemen kurkumin, sebaiknya memilih produk yang mengandung piperin dari lada hitam. Piperin dapat meningkatkan penyerapan kurkumin di dalam tubuh, sehingga manfaatnya dapat diperoleh tanpa perlu mengonsumsi dosis tinggi.

Kelompok tertentu juga perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kunyit. Penderita batu ginjal maupun pasien dengan gangguan ginjal kronis dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi kunyit secara rutin. Dengan penggunaan yang tepat dan tidak berlebihan, kunyit tetap dapat dinikmati sebagai bumbu masakan maupun minuman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan.

Rekomendasi Berita