Waspada Tekanan Darah Tinggi tanpa Gejala

  • 12 Mar 2026 16:11 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Hipertensi diibaratkan seperti rayap di rumah, idak ada suara, tidak ada drama, dan tiba-tiba suatu hari plafon rumah runtuh. Orang pun kaget padahal prosesnya sudah berlangsung lama. Banyak orang dengan tekanan darah tinggi namun tidak disertai dengan gejala sepeti pusing. Apakah dengan kondisi ini aman? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :

Masalah terbesar hipertensi adalah jarang menimbulkan gejala di awal, tidak ada alarm keras, tidak ada rasa sakit yang dramatis, tekanan darah bisa tinggi bertahun-tahun tanpa ada keluhan berarti. Sementara pembuluh darahnya perlahan mengalami kerusakan. Tekanan darah adalah gaya dorong darah terhadap dinding pembuluh darah.

Jika tekanan terus-menerus tinggi, maka dinding pembuluh darah menjadi kaku, menembal, dan mudah mengalami kerusakan. Pada jantung bisa menyebabkan penebalan otot jantung, pada otak bisa meningkatkan risiko terjadinya stroke, pada ginjal bisa mempercepat terjadinya gagal ginjal. Dan pada mata bisa merusak pembuluh darah retina. Banyak orang berpikir hipertensi identik dengan sakit kepala. Padahal sebagian besar pasien dengan tekanan darah tinggi tidak mengalami pusing sama sekali. Justru ketika sudah muncul gejala berat seperti nyeri kepala yang hebat, gangguan penglihatan, atau sesak nafas, seringkiali kerusakan sudah terjadi.

Faktor resiko hipertensi sangat umum seperti usia bertambah, konsumsi garam berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres kronis, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan riwayat keluarga. Pada sebagian orang muda, hipertensi itu bisa disebabkan oleh masalah ginjal atau gangguan hormonal. Masalah lain adalah kebiasaan minum obat yang tidak teratur.

Ada pasien yang minum obat hanya saat merasa tidak enak badan. Ketika merasa baik-baik saja, obatnya dihentikan. Padahal obat antihipertensi bekerja menjaga tekanan darah tetap stabil sepanjang hari, bukan hanya saat gejalanya muncul. Hipertensi yang tidak terkontrol juga mempercepat proses aterosklerosis. Tekanan darah yang tinggi membuat lapisan dalam pembuluh darah lebih mudah ditembus oleh kolesterol. Kombinasi antara hipertensi dan kolesterol tinggi ibarat tim yang kompak dalam merusak pembuluh darah.

Pola makan juga memiliki peranan yang besar. Asupan garam yang berlebihan membuat tubuh menahan cairan lebih banyak sehingga tekanan darah meningkat. Banyak orang merasa tidak makan asin. Padahal makanan olahan, cemilan kemasan, dan saus siap saji itu menyumbang natrium yang tinggi. Selain itu dengan melakukan aktivitas fisik yang teratur dapat juga menurunkan tekanan darah secara signifikan. Jalan cepat 30 menit sehari 5 kali seminggu itu udah ada dampaknya. Tidak harus langsung maraton. Konsistensi lebih penting daripada heroisme sesaat.

Berat badan juga sangat berpengaruh. Penurunan 5 sampai 10% dari berat badan awal bisa menurunkan tekanan darah secara nyata. Lemak viseral berhubungan erat dengan resistensi insulin dan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis yang bisa mendorong tekanan darah naik. Stestronis juga membuat tubuh kamu terus berada dalam mode siaga. Hormon stres meningkatkan denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah. Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa manajemen yang baik, tekanan darah jadi makin sulit turun. Tidur yang cukup dan berkualitas itu juga penting.

Slip apnea sering menyebabkan hipertensi resistance, yaitu tekanan darah yang sulit terkontrol meski sudah minum beberapa jenis obat. Jika seseorang mendengkur keras dan sering terbangun di malam hari, itu perlu evaluasi lebih lanjut. Target tekanan darah umumnya di bawah 140/90 mm HG untuk populasi umum. Dan pada kelompok risiko tinggi seperti penderita diabetes atau penyakit ginjal, targetnya itu bisa lebih ketat sesuai rekomendasi dokter.

Biasanya kita targetkan di bawah 120. Angka ini bukan sekedar statistik, tapi batas aman untuk melindungi organ vital. Pengukuran tekanan darah itu juga sebaiknya dilakukan dalam keadaan tenang. Setelah duduk minimal 5 menit dengan posisi yang benar, enggak boleh menyilang kakinya dan harus tegak. Pengukuran yang terburu-buru atau saat cemas bisa menghasilkan angka yang lebih tinggi. Namun jika berulang kali tinggi itu sudah pasti bukan kebetulan.

Jika Anda berusia di atas 30 tahun, biasakan cek tekanan darah secara berkala. Bahkan jika merasa sehat. Jika sudah ada diagnosis hipertensi, patuhi terapinya, atur pola makannya, kurangi garam, jaga berat badan, rutinlah bergerak, dan kelola stres. Menjaga tekanan darah bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk 10 hingga 20 tahun ke depan.

Rekomendasi Berita