Mewujudkan Sekolah sebagai “Rumah Kedua”
- 18 Feb 2026 22:54 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman agar proses belajar dan sosialiasi menjadi efektif. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa tantangan dalam menciptakan ruang aman di sekolah semakin kompleks, mulai dari isu perundungan (bullying) hingga pergeseran nilai etika antara guru dan murid.
“Jika sekolah bukan tempat yang tidak nyaman, maka ini akan sangat riskan. Jadi, bagaimana sekolah menciptakan suasana aman dan nyaman, agar anak-anak betah di sekolah, kemudian juga dengan hubungan pertemanan. Tentunya ini menjadi tugas kita semua, dari kepala sekolah, hingga guru-guru harus ikut andil dalam mewujudkan sekolah yang aman,” ujar Ketua Biro Advokasi dan Hukum PGRI Aceh/Kepala SMAN 2 kuta Baro, Sofyan, S.Pd., M.Pd. dalam dialog bersama Pro 2 Banda Aceh, Jumat 30 Januari 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Siswa SMA LAB School Banda Aceh, M. Gibran Azra, mengatakan perbedaan guru Gen Z dengan guru yang lebih tua. “Pemikiran guru yang lebih tua, mungkin siswa itu harus dididik lebih keras. Padahal yang kami inginkan adalah rasa aman, nyaman, dan rasa kasih sayang seorang guru,” ucapnya.
Lebih lanjut, Sofyan mengatakan bahwa guru masa kini harus mengedepankan pendekatan emosional. Menurutnya, mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi memberti kasih sayang dan bimbingan sebagai orang tua kedua. Pendekatan ini penting agar siswa merasa terlindungi, bukan tertekan.
Selain itu, perrundungan masih menjadi ancaman di sekolah. Bentuknya pun beragam, mulai dari fisik, verbal, hingga perundungan secara digital. Jadi, diharapkan adanya ruang dialog sebagai wadah mediasi. Sehingga siswa dapat mengadu dan para guru dapat mendeteksi masalah yang terjadi serta mengedepankan musyawarah dalam penyelesaiannya, karena melapor bukan berarti lemah, tapi langkah untuk mencari Solusi.