Mengenal Gejala dan Penanganan Penyakit Jantung pada Anak
- 26 Feb 2026 09:46 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Penyakit jantung sering kali dianggap sebagai “penyakit orang dewasa”. Namun, kenyataanya banyak anak yang lahir dengan kondisi jantung yang sempurna. Konsultan Jantung Anak, Prof. DR. dr. Herlina Dimiati, SpA. Subsp Kardio (K) menjelaskan bahwa ada tiga alasan utama mengapa masalah jantung pada anak sering terlambat didiagnosis.
“Yang pertama karena masih banyak masyarakat yang belum memahami dampak jangka Panjang masalah jantung pada anak. Kemudian, ketakutan akan operasi, karena khawatir jika anak harus menjalani operasi di usia yang sangat muda. Terakhir, karena ada anggapan yang salah bahwa jantung bocor bisa menutup hanya dengan pemberian makanan dan gizi yang meningkat,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Sabtu 7 Februari 2026.
Secara garis besar, masalah jantung pada anak terbagi menjadi dua:
- Penyakit Jantung Bawaan (PJB), kelainan struktur jantung yang dibawa sejak dalam kandungan, dengan variasi:
- Tipe Biru (Sianotik): Kulit, bibir, atau kuku anak tampak kebiruan, terutama saat menangis.
Tipe Tidak Biru (Asianotik): ini yang lebih sering luput dari perhatian. Anak terlihat normal secara fisik, namun kinerjanya lemah.
2. Penyakit Jantung Didapat: kelainan yang muncul setelah lahir, biasanya dipicu oleh infeksi kuman Streptococcus (akibat radang tenggorokan yang tidak tuntas) yang kemudian menyerang katup jantung.
Lebih lanjut, dokter Helina mengatakkan bahwa beberapa tanda-tanda khas anak-anak dengan penyakit jantung bawaan berupa berat badan sulit naik meskipun asupan gizi yang cukup, kemudian jika bayi menyusu, ia sering terputus-putus karena merasa lelah, dan sering mengalami infeksi saluran pernapasan atau radang paru (pneumonia) berulang.
Ia juga menekankan bahwa obat-obatan tidak bisa menutup kebocoran jantung. Obat hanya digunakan untuk memperbaiki kinerja jantung. Untuk menutup kebocoran, diperlukan tindakan seperti operasi, berupa membuka dinding dada untuk memperbaiki jantung. Dan metode Intervensi Non-Bedah, berupa memasukkan alat melalui kateter (tanpa bedah besar) hingga ke ruang jantung yang bocor untuk menutupnya.